Female Software Engineer

Saya pernah menemukan sebuah gambar ini saat browsing di Google :

 

Kurang lebih, begitulah saya. Eh, bukan… Saya nggak persis megang-megang spanduk seperti itu di pinggir jalan. Hehehe… Maksud saya, saya juga ngoding (HTML, PHP, .NET atau bahasa pemrograman apa pun, deh. :P ) untuk makan (atau bahasa kerennya : jadi programmer). Hehehe… Nah, semalem saya dapat mention di twitter dari @plasnadtic :

 

Saya buka deh tuh linknya. Dan saya menemukan sebuah postingan menarik yang berjudul : “The Benefits of Being a Female Software Engineer” yang ditulis oleh salah seorang programmer wanita, Jean Hsu. Isinya kurang lebih tau kan tentang apa? Yaitu tentang keuntungan menjadi perempuan yang berprofesi sebagai teknisi perangkat lunak. Kalau mau tau dimana letak menariknya postingan ini, coba baca sendiri dulu dari awal sampe akhir postingan Jean Hsu tersebut. :P

 

Yang menjadi point of view saya adalah statement-statement :

 

1. Casual attire

“…but women seem to have some pressure to “update their wardrobe” and “accessorize.” As for me? My college wardrobe transitioned seamlessly into my work wardrobe. Now, standard work apparel is t-shirt and jeans, accessorized with a pair of flip-flops, sneakers, sanuks, or if I am feeling particularly fun, my vibrams.  I don’t really enjoy or have time to go shopping, so this works out well.”

HAHAHA…! Yang ini bener banget! Saya biasa nge-jeans kalo ke kantor. Meskipun baju dan sepatu tetep yang rapi dan sopan sih, ya. Sepatu pun boleh pake sepatu apa aja. Dan iya, saya juga nggak terlalu menikmati (dan nggak punya banyak waktu juga) untuk blanja-blanji dan meng-update pakaian kerja saya dengan model terbaru. Hehe… Nih ya, saya kasih tau. Saya tuh beli baju baru paliiiing banyak cuma 2 kali dalam setahun! Meskipun, sekali belanja bisa ngabisin hampir seluruh gaji saya selama sebulan. Hehe… Tapi karena kejadiannya cuma 2 kali dalam setahun, ya nggak apa-apa, toh? :P Namun, saya lebih sering menabung sebagian besar gaji saya untuk modal traveling. :D

 

2. The Odds

“…if you are a single female you can have first pick of a lot of really nice available guys. I met my husband Tyler while we were both working for Google in NY, and he has said that he’s glad he met me before he moved out to California.  With the scarcity of women in software, I don’t envy any of the single male software engineers in Silicon Valley.”

Enggg… Tadinya saya juga mikir begini. Tapi gimana, ya? Kok ya saya nggak pengen “lirak-lirik cowok dari profesi yang sama? Meskipun… Yah, ada lah dari mereka yang cute. :P Tapi tetep aja saya nggak pernah kepikiran untuk mendekati salah 1 di antaranya. Hehehe…

 

3. Less Drama

“…I suspect that working with mostly men keeps the workplace drama-free. Not that all or most women are moody drama queens, but you know, it happens. It just seems to happen less with men.”

Eaaa… Ini bener banget! Kalo kebanyakan kerja sama cowo tuh, nggak ada lah “drama-drama” lebay gituan. Mood terjaga dengan baik dan bener-bener fokus sama kerjaan aja. :D

 

4. Being Memorable

“If you go to a tech event or conference and meet 30 male developers and 2 female developers, you will probably remember their names, or at least their faces.”

Ini juga bener banget, sodara-sodara! Hehe… Di divisi saya ini, dari sekian banyak programmer cuma saya sendiri programmer yang cewe. Jadi yaaahh… Tentulah saya yang paling gampang diinget! Hihihi…

 

5. Being Liked

“…most female engineers are easy to get along with and are well-liked and appreciated in their team.”

Uhuk… Aduh, jadi nggak enak nih. Tapi ya memang kenyataannya begitu. :P Karena di divisi ini cuma saya sendiri programmer yang cewe, hal-hal yang berhubungan dengan tugas wanita selalu diserahkan ke saya. Sehingga lebih dihargai kehadirannya di dalam tim. Dan karena ngurusin macem-macem, jadinya cepet dan gampang deket deh dengan orang-orang yang berada di dalam maupun di luar divisi saya.

 

Tapi yah, kenyatannya… Menjadi teknisi cewe (rasanya di mana pun, yah?) kadang suka diremehkan kemampuannya. Padahal, dulu itu di antara mahasiswa seangkatan di jurusan saya, yang jagooo banget ngodingnya justru yang cewe-cewe, loh! Salah 1 nya @plasnadtic, yang akhirnya dapat beasiswa ke Belanda dan sampe sekarang masih bekerja di Belanda sebagai Female Software Engineer. ^^

14 thoughts on “Female Software Engineer

  1. agree. saya bukan programmer,tapi nyemplung di dunia ini. kebetulan di region saya, saya juga satu satunya perempuan. hihihihi

  2. Menjadi “langka” itu memang banyak keuntungannya yaa ;))

    btw,

    kadang suka diremehkan kemampuannya. Padahal, dulu itu di antara mahasiswa seangkatan di jurusan saya, yang jagooo banget ngodingnya justru yang cewe-cewe, loh!

    Mungkin yang cowok2 pada males kuliahnya yaa! Hehehee, piss deh buat yg cowok2 :))

  3. heheh…. di-mentioned

    Casual attire : CHECKED

    The Odds : there is sort of the no-dating-colleague unwritten rule ;)

    Less Drama : CHECKED

    Being Memorable : CHECKED

    Being Liked : CHECKED

    One more thing : whining if they left the dishes in the wrong place for days ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *