Debat atau Diskusi?

Hehehe… Jujur yah, jangan ada yg tersinggung, loh. :P Mungkin jg saya sendiri pun pernah melakukan… Kadang saya merasa lucu kalo liat orang berdebat di twitter karena orang2 ini merasa yakin dgn pandangannya masing-masing. Semua merasa benar. Mulai dr yg debat halus sampe yg debat kayak preman.  Ada lg yg pake nyerang dgn mengarahkan massa dengan memprovokasi. Ya jelas yg massa nya sedikit, mau sebenar apapun akan kalah.

 

Lalu saya jg kadang bisa senyam-senyum sendiri kalo liat orang yg bikin statement di twitter yang…. Enggg… Contoh statement nya kurang lebih seperti ini : “Orang yg keren itu yg bla bla bla…” Yg intinya “bla bla bla” ini adalah orang yg seperti dirinya, si pembuat statement. Yg nggak kayak dirinya seolah ya nggak sekeren itu. :P Bikin saya ngebatin, “Yaaa… Itu kan yg keren menurut lo. Orang yg keren menurut gw ya yg kayak gw lah!”. Hahaha…

 

Saya sinis? Ok, jujur yah. Saya tuh pernah dateng ke psikiater secara profesional alias bayar jasa konsultasi. Bukan punya kenalan psikiater trus pengen konsultasi gratis gitu. Hihihi… Oh nggak, nggak… Saya nggak sedang mengalami gangguan jiwa waktu itu. Bahkan sang psikiater bilang kesehatan jiwa saya bagus. :P Saya memang dr dulu penasaran banget, gimana sih rasanya konsultasi secara profesional sama psikiater?

 

Ya udah. Saya keluarin deh unek-unek saya waktu itu di depan sang psikiater. Tentang saya yg susah memahami jalan pikiran orang lain. Tentang saya yg nggak habis pikir kenapa ada orang yg A dan ada yg B. Si psikiater sempat mencoba membantah saya. Tp saya bantah lg. Lalu saya merasa dia kembali mendebat saya dan lagi2 saya bantah. Ternyata, setelah itu dia ngomong, “Ok, cukup. Saya nggak akan mendebat kamu lg, Nilla. Karena kamu manusia. Jika saya mendebat kamu, sama aja saya menghina kecerdasanmu sebagai manusia. Kamu sudah terbentuk menjadi manusia yg seperti ini. Mau saya debat pun kamu akan tetap merasa benar meskipun mulutmu bilang, “Ok saya salah”.”

 

Saya langsung terdiam waktu itu. Iya, sih. Kalo dipikir-pikir saya emang suka ngebantah orang yg nggak sepikiran dengan saya. Tapi kan rasanya itu manusiawi, ya? Padahal kalo mau dipikir ulang, bukankah kepala manusia isinya memang beda-beda? Terlahir dari latarbelakang keluarga yg beda, pengalaman yg beda, proses hidup yg beda, dan pengetahuan yg beda. Justru harusnya malah aneh kalo ada pikiran manusia yg benar-benar sama persis. Bahkan anak kembar seperti saya sekalipun suka berantem sama kembarannya kok karena beda pandangan.

 

Soal cara pandang, baru aja saya dapat ilmu menarik dari seorang pakar Knowledge Management yg pernah menyelesaikan S1, S2, dan S3 nya di Inggris. Saya benar-benar mendengar kalimat ini langsung dari mulutnya, “Anda tau dari mana asal usul kata “knowledge“? Knowledge berasal dari : know-all-edge yg artinya “tau semua sisi”. Yg mana kata “knowledge” itu sendiri diartikan sebagai “ilmu pengetahuan”. Jd kita jgn merasa kita lah yg paling tau apa yg paling benar. Karena begitu kita melihat sesuatu dr sisi yg lain, bentuknya bisa berbeda dr yg kita lihat dr sisi yg sebelumnya. Seseorang baru bisa dikatakan punya pengetahuan jika dia tau segala sesuatu dari semua sisi.” Waw, great point! Benar2 membuka pikiran dan penilaian saya tentang orang yg punya pengetahuan!

 

Lalu kembali pada psikiater tadi yah… Saya sempet nanya ke beliau, “Lah trus kalo saya nggak setuju dgn pendapat orang lain gimana? Saya diam aja gitu? Nggak ngebantah sama sekali meskipun hati saya treak-treak bilang dia salah?”. Dan sang psikiater pun menjawab, “Ibarat gunung berapi, kalo udah mau meledak nggak apa-apa laharnya dikeluarin aja. Tp meskipun laharnya mengalir, tetep dipikirin gimana caranya supaya lahar itu nggak ngerusak sawah orang lain.” Got it? Jd maksudnya adalah, kalo memang nggak setuju dengan pendapat orang, nggak apa2 diungkapkan aja. Jangan dipendem. Tp pikirkan gimana cara ngungkapinnya yg enak, yg nggak nyinggung perasaan orang. Jangan sampai lawan bicara terintimidasi.

 

Satu hal lg, sang psikiater jg bilang sesuatu yg menurut saya jg sebagai salah 1 point penting yg harus diingat : “Saya nggak tau ya kamu dibesarkan dengan nilai-nilai yg seperti apa. Tp kalo saya ambil kesimpulan secara global, banyak orang dibesarkan dengan menganut pemahaman : “Udah, jangan ngebantah. Lebih baik mendem, lebih baik sabar.” Padahal itu akibatnya bisa fatal! Orang yg kebanyakan mendem akan jauh lebih menyeramkan efeknya dibanding orang yg mudah mengungkapkan ketidaksetujuannya.” Wooohh… Berarti selama ini saya salah! Saya pikir, mendem dan sabar itu jauh lebih baik ketimbang protes. Ternyata, proteslah yang lebih dianjurkan oleh psikiater.

 

Nah, tapi balik lg… Kalo mau protes, tetep harus diungkapkan dgn tanpa membuat lawan bicara tersinggung/terintimidasi. Inget, yg kita pahami belum tentu bener, kok. Lebih baik diskusi ketimbang debat. Karena menurut pemahaman saya, debat itu tujuannya utk mencari “mana yg paling benar”. Sementara, diskusi itu untuk “menambah wawasan”. Outputnya aja beda, kan? :D Meskipun, debat itu nggak selalu buruk, kok. Hanya saja, debat dilakukan oleh 2 atau beberapa orang yang berasal dari pemahaman yang berbeda. Sementara diskusi dilakukan oleh orang yang bisa jadi berasal dari pemahaman yang sama.

 

Makanya, sekarang saya cuma senyam senyum aja kalo liat orang debat, merasa paling benar dan paling keren. Bahkan sebisa mungkin saya nggak melibatkan diri dalam debat dengan orang-orang yg dari cara berfikirnya aja udah jauh berbeda dengan saya. Ya cuma buang-buang waktu. Psikiater yg saya temui jg bilang, manusia itu pinter kok. Input yg masuk ke otaknya bisa macem-macem. Tp otak menyaring lg. Hanya hal-hal yg sesuailah yg bisa diterima dan benar-benar dieksekusi.

 

 

 

*gambar diambil dari sini dan sini*

11 thoughts on “Debat atau Diskusi?

  1. mau mengingatkan dikit.. hehe

    asal kata knowledge bukan know-all-edge.. itu cuma sekedar permainan kata.

    bisa dilihat di : http://www.20kweb.com/etymology_dictionary_K/origin_of_the_word_knowledge.htm

    berikut kutipannya:

    KNOWLEDGE, assured belief, information, skill. (E.; with Scand. suffix.) M.E. knowlege, Chaucer, C. T. 12960; spelt knoweliche, knowleche in Six-text ed., B. 1220. In the Cursor Mundi, 12162, the spellings are knaulage, knawlage, knauleche, knowleche. The d is a late insertion; and -lege is for older -leche. For know-, see Know. As to the suffix, it is a Scand., not an A.S. form; the ch is a weakened form of k as usual; and -leche stands for -leke, borrowed from Icel. -leikr or -leiki (= Swed. -lek), occurring in words such as kærleikr, love (= Swed. kärlek), sannleikr, truth, heilagleiki, holiness. ?. This suffix is used for forming abstract nouns, much as -ness is used in English; etymologically, it is the same word with Icel. leikr (Swed. lek), a game, play, sport, hence occupation, from the verb leika, to play, cognate with A.S. lácan, Goth. laikan, to play, and still preserved in prov. E. laik, to play, Southern E. lark, a piece of fun, where the r is inserted to preserve the length of the vowel. The A.S. sb. lác is cognate with Icel. leikr, and is also used as a suffix, appearing in wed-lác = mod. E. wedlock. ?. It will now be seen that the -ledge in knowledge and the -lock in wedlock are the same suffix, the former being Northern or Scandinavian, and the latter Southern or Wessex (Anglo-Saxon). See further under Lark (2), Wedlock. ?. It may be added that the compound knáleiki actually occurs in Icelandic, but it is used in the sense of ‘prowess;’ we find, however, a similar compound in Icel. kunnleikr, knowledge. Der. acknowledge, a bad spelling of a-knowledge; see Acknowledge.

  2. Aku jadi ingat dulu waktu kita masih sering chatting di Y!M, pada suatu titik aku berkesimpulan kamu orangnya ngga akan bisa menerima saran atau pendapat orang lain, jadi abis itu yang aku lakukan adalah sekedar mendengarkan (eh, membaca) dan menimpali secukupnya, meskipun kadang-kadang juga pengen berdebat kusir biar seru :-D

    • Dulu? Oh… Waktu itu kan aku masih ABG. Masih keras kepala banget. Hahaha… *dijitak* Tp tenang, tenang… Sekarang udah lembekan, kok. B-)

  3. wah pernah ke psikeater. hmm iseng banget, tapi kadang capek juga lho dengar debat gitu. tegang. mending bicara biasa aja. trus ketawa bahagia

  4. Kalo di blog kita bisa diskusi, tapi kalo di twitter emang susah. Pernah ngoreksi orang yang salah nulis, malah dinyolotin. Ada juga mau ngasi tau kalo info yg di twit sesorang itu salah, aku malah dingambekin. Padahal kalau dia nggak setuju tggl bilang…

    Tapi kalo di media cyber atau di depan umum gini, aku masih mikir2 utk mengemukakan pendapat. Kalo one on one br aku berani protes kalau ada yg salah, lbh enak, jauh dari salah paham.

  5. Yang lebih parah lagi kalo topik yang diperdebatkan adalah sesuatu yang kedua belah pihaknya sama-sama belum ngerti kebenarannya… :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *