When I Grow Up…

Ternyata, menjadi orang dewasa itu sulit. Harus bisa menentukan nasib sendiri. Harus berjuang melawan kerasnya hidup. Harus mampu melindungi diri sendiri. Padahal dulu waktu masih kecil… saya selalu penasaran bagaimana rasanya menjadi orang dewasa. Kayaknya asik. Bisa memutuskan sendiri apa yang diinginkan. Tapi setelah saya dewasa, ternyata saya menyadari bahwa menjadi dewasa itu tidak seindah yang saya bayangkan di masa kecil. Padahal masih banyak loh fase hidup yang belum saya lewati. Menikah dan punya anak misalnya. Atau mengalami menopause.

 

Beberapa kali saya menemukan fakta bahwa orang-orang yang dulu di waktu kecil terlalu manja dan bergantung pada orang tuanya, kini panik. Karena menghadapi kenyataan bahwa orang tuanya sudah semakin tua. Sudah tidak bisa lagi dijadikan tempat bersandar dan bergantung. Segala hal manis yang mereka alami di masa kecil hanyalah keberuntungan belaka. Dimana saat mereka dewasa, mereka lah yang harus menemukan “keberuntungan” mereka sendiri.

 

Meskipun berkali-kali pula saya menemukan fakta bahwa mereka yang sejak dulu terlalu mengandalkan orang tuanya, sampai mereka dewasa pun juga masih seperti itu. Misalnya, terlalu malas sekolah sehingga mendapat nilai yang buruk. Tapi ketika bekerja, mereka mampu mendapatkan pekerjaan yang baik hanya karena koneksi orang tua. Ya, lagi-lagi masih mengandalkan orang tua. Belum mampu menentukan nasib sendiri.

 

Oh enggak. Saya nggak merasa lebih baik dari orang-orang ini karena sejujurnya sampai sekarang pun kadang saya juga masih mengandalkan orang tua. Meskipun porsinya sudah sangat sedikit. Hanya di saat-saat tertentu saja. Saya cukup lega karena kini saya sudah hampir sepenuhnya bisa menentukan nasib saya sendiri. Jujur, setelah bekerja inilah akhirnya saya sadar bahwa mencari uang itu susah. Paling tidak, begitulah yang saya alami. Dulu saat masih sekolah, saya taunya cuma minta uang aja sama ortu. Kalo nggak diberikan apa yang diinginkan, langsung ngambek. Bahkan kadang saya merasa ortu saya mungkin tidak menyayangi saya lagi.

 

Kini akhirnya saya sadar dan mengalami sendiri bahwa mencari uang atau bekerja itu tidak mudah. Mungkin saja dulu ayah atau ibu saya sempat beberapa kali punya masalah serius di kantor, stress karena pekerjaan, mendapat tekanan di sana sini, atau hal-hal buruk lainnya. Sementara yang saya tau hanya kedua orang tua saya bekerja 8 jam sehari di luar rumah. Pulang sudah dalam keadaan biasa-biasa saja. Tanpa saya pernah tau apa yang mereka alami atau rasakan selama bekerja. Ya ampun, kini betapa saya menyesal dulu pernah memaksa ortu saya untuk membelikan saya sesuatu. Padahal mencari uang itu susahnya bukan main. :(

 

Kalau sedang bekerja keras di kantor, mengalami lembur yang melelahkan, atau stress karena kerjaan nggak habis-habis, saya suka mikir. Betapa enaknya hidup di masa kecil dulu. Betapa saya rindu ketika kepala saya hanya sibuk memikirkan apakah ada PR untuk besok atau tidak. Betapa saya rindu pulang siang, kemudian bisa sepuasnya bermain bersama teman-teman saya. Bahkan saya sangaaaaaaattt rindu masa-masa dimana hal paling berat yang saya pikirkan adalah warna krayon apa yang akan saya bubuhkan di atas kertas gambar saya. :)

11 thoughts on “When I Grow Up…

  1. saya, sedari dulu terlalu sok mau mandiri, padahal uang sekolah dan jajan masih minta sam aortu, dan jujur asya selalu kagum sama yang bias mandir dalam arti sebenarnya, bisa nyari uang sendiri di kala temen-etmen sebaya masih senang-senang dengan segala fasilitas ortu.

    tapi, pesta pasti berakhir
    dan seseorang akhirnya harus hidup ‘sendiri’
    :)

  2. Saya diajarkan untuk mandiri itu sejak lulus SD. Yaitu ketika ayah tidak mau memasukkan saya ke SMP tempat beliau mengajar, meskipun SMP itu termasuk SMP favorit. Beliau bilang, meskipun kamu pinter, kamu tetap dianggap anak guru situ. Kalau di SMP lain, pintermu ya betulan karena pinter.

    Sampai sekarang saya ga terlalu respek sama orang yang mendapatkan promosi/posisi karena ada saudaranya yang pejabat di situ.

  3. gue udah mulai kerja dan ngasih uang ke nyokap sejak masih kuliah, makin ke sini makin berat karena skrg harus support keuangan keluarga.
    gue juga sering mikir, enak banget ya kalo masalah paling berat di dalam hidup seseorang cuma sekedar “duit kurang buat beli tas” atau “pacar cemburuan” :))

  4. hihihihi….kita baru mikir orang tua kita, saat kita ngalamin sendiri gimana susahnya cari uang…

    nanti kalo dah jadi ibu, beda lagi rasanya nil.
    rasanya jadi merasa berdosaaaaaaaa banget sama orang tua, khususnya ibu :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *