Bukan Fiksi

Aku cukup sering melihat adegan di film-film dimana ada 2 orang asing yang tidak sengaja bertemu, kenalan, cocok, dan kemudian dengan singkat bisa pacaran. Tapi aku baru 1 kali mengalaminya. Oh tidak, tidak… Tidak sampai pacaran, memang. Tapiii… Ada sesuatu yang berbeda yang aku rasakan saat pertemuan itu.

 

Beberapa tahun yang lalu…

 

Aku bertemu denganmu tanpa sengaja. Di suatu kota yang sangaaatt jauh. Aku tidak kenal siapa-siapa di sana. Hingga akhirnya Tuhan mempertemukanku denganmu. Lalu dengan beberapa orang lagi. Tapi kamu yang paling berkesan begitu dalam. Pembawaanmu hangat, ramah, lucu, hingga aku merasa seperti pernah mengenalmu sebelumnya. Tapi tidak, aku yakin baru kali itu bertemu denganmu.

 

Lalu setelah pertemuan pertama itu, begitu saja kita bertukar nomor HP. Kemudian kamu bertanya apa acaraku malam itu. Jujur saja kubilang ingin jalan-jalan sekalian mencari oleh-oleh. Nah, saat itu kamu seperti mengambil kesempatan. Menawarkan diri untuk mengantar aku jalan-jalan dan mencari oleh-oleh. Tentu saja kuterima tawaran itu. Dan benar saja, malam itu kamu datang menjemputku di hotel. Datang dengan…… Hey, apakah itu kemeja? Lalu dengan…….. Motor gede (moge)? Waw, kamu serius rupanya. Serius membuatku terkesan? Hihihi…

 

Tanpa perlu kutulis di sini dan menceritakan secara detail pada orang banyak, kita cukup tau seberkesan apa malam yang kita lewati saat itu. Tidak, tidak mewah. Kamu hanya membawaku ke rumah makan seafood (setelah kamu bertanya apa makanan kesukaanku). Lalu kita jalan-jalan menjelajahi toko-toko yang menjual oleh-oleh. Tau apa yang paaaling bikin aku terkesan? Kamu benar-benar orang yang paling apa adanya yang pernah kutemui! Kamu tidak takut terlihat bodoh. Kamu melucu secara natural. Dan kamu……. Hey, kamu orang yang paling takut terlihat sombong di mataku! Serius! :) Dan itu tidak dibuat-buat.

 

Besoknya kita bertemu lagi. Tapi kali ini ada yang terasa aneh. Aku seperti agak menjauh darimu dan kamu pun juga seperti itu. Tidak apa-apa. Aku tau kenapa. Karena malam itu kita sama-sama mengakui bahwa kita sama-sama sedang punya pacar. Ah, ya. Selalu masalah timing.  Tapi setidaknya, aku masih dapat merasakan sikap hangatmu sebelum aku pulang ke kotaku besok paginya.

 

Sorenya saat aku sedang berkemas-kemas di kamar hotel, kamu tiba-tiba datang. Kita pun berbincang-bincang lagi dengan santai. Kupikir akan jadi pertemuan yang cukup singkat sebelum aku pulang. Ternyata tidak. Kamu “menculikku” ke luar dari hotel malam itu. Jalan-jalan lagi dengan motormu. Lalu kita makan roti bakar di pinggir jalan, persis di dekat pantai. Indah. Sungguh indah. Nyaman sekali. Kita ngobrol banyak di sana malam itu hingga tidak terasa sudah jam 2 pagi. Padahal pesawatku terbang jam 6 pagi. Kemudian kamu mengantarku kembali ke hotel.

 

Jujur, saat kamu mengantarku pulang, aku seperti tidak mau pulang. Aku melihat punggungmu yang sedang mengendarai sepeda motor dari belakang dan tiba-tiba aku merasa takut tidak akan pernah melihat punggung yang kokoh itu lagi. Dalam hati aku menangis. Sedih. Tapi enggan menunjukkannya di depanmu. Tak lama kita tiba di hotel. Lalu kamu berjanji akan datang menjemputku lagi untuk membawaku ke bandara.

 

Aku tau kamu selalu tepat janji. Bahkan tidak telat sedikitpun. Kamu datang menjemput di hotel dan menemaniku di bandara. Anehnya, di bandara kita malah banyak diam. Mungkin sudah sangat banyak yang kita ceritakan di dekat pantai itu sehingga kita kehabisan bahan. Tapi tidak apa-apa. Aku cukup senang kamu benar-benar menemaniku hingga akhirnya pesawat itu menerbangkanku kembali ke kotaku…

 

Itulah pertemuan pertama dan terakhir kita. Sudah beberapa tahun yang lalu dan aku masih mengingatnya dengan baik.

 

Setelah aku pulang, kita tidak kontak-kontakan lagi. Hanya sesekali saling sapa di Facebook dan Whatsapp. Selebihnya? Hampir tidak pernah. Iya, kita sama-sama tau kepada siapa hati kita sesungguhnya terisi.

 

Dan secara mengejutkan kudengar sebentar lagi kamu akan menikah. Iya, hanya dalam hitungan hari ke depan. Aku mendengarnya dari orang lain yang cukup mengerti dan merasakan “sesuatu” di antara kita saat itu. Aku kaget. Karena kamu sama sekali tidak mengabariku. Entahlah. Entah apa yang membuatmu begitu. Pasti karena sesuatu. :) Tapi apapun itu, aku cukup senang… Cukup mampu ikut merasa bahagia bahwa kamu akhirnya benar-benar melabuhkan hatimu pada perempuan istimewa yang pernah kamu ceritakan padaku.

 

Really happy for both of you… :)