Umroh #2: Mekah

 

Perjalanan dari Madinah ke Mekah dengan bus memakan waktu lebih kurang 5 jam. Tapi asik, loh! Jalannya lurus-lurus aja alias bikin ngantuk. Hihihi… Nggak ada tanjakan atau penurunan sama sekali dan sepanjang perjalanan cuma ngeliatin padang pasir. Perjalanan yang cukup lama ini memang sebaiknya digunakan untuk tidur karena diperkirakan tiba di Mekkah sudah larut malam dan langsung melaksanakan ibadah umroh yang sebenar-benarnya (Thawaf dan Sa’i) di Masjidil Haram. Sebelum masuk ke kota Mekah, terlebih dahulu kami melakukan miqat di Bir Ali.

 

Tiba di Mekah udah tengah malam, langsung istirahat sebentar di hotel. Nggak lama rombongan ngumpul di lobby hotel untuk bersama-sama berangkat ke Masjidil Haram yang lokasinya tidak jauh dari hotel. Subhanallah. Bulu langsung merinding begitu kaki menginjak lantai keramik Masjidil Haram. Apalagi begitu melihat ka’bah yang terletak di tengah-tengah mesjid. Mata langsung berkaca-kaca. Sebelum melakukan thawaf, rombongan saya terlebih dahulu melakukan sholat di mesjid secara berjamaah. Maka dimulailah thawaf serombongan di depan ka’bah. Alhamdulillah semua sanggup, semua sehat. Tidak ada yang tau-tau jatuh atau mendadak sakit. Padahal di rombongan saya juga ada beberapa yang sudah tua banget, loh. Begitu thawaf selesai, maka langsung lanjut melakukan sa’i dari Safa ke Marwah. Dan alhamdulillah… Semuanya berjalan lancar tanpa kendala sedikitpun! Yang udah tua juga kuat-kuat aja. Nggak ada yang tau-tau minta kursi roda … :) Hebat! Sesudah sa’i barulah kami melaksanakan rukun umroh yang lain, yaitu bercukur atau memotong sedikit rambut. ^^

 

Alhamdulillah… Semua rukun umroh sudah terlaksana dengan baik. Lega luar biasa. Capek sih pasti. Tapi kalah sama rasa puas dan senang. Terlebih mata yang masih saja mengagumi ka’bah yang jaraknya sempat cuma beberapa senti meter aja di depan saya. Huhu… Nggak pernah kebayang sebelumnya bakalan lihat ka’bah sedekat ini.

 

Nah, selama 5 malam saya di Mekah, kesan saya terhadap kota ini justru jauh lebih baik ketimbang Madinah. Entah kenapa saya sering sekali menemukan orang yang ramah dan santun di kota ini. Meskipun yang jutek dan ngeselin juga ada, ya. Tapi jauh lebih banyak yang ramah! Di sini masuk mesjid nggak pake acara periksa tas segala kayak di Madinah. Udah gitu mesjidnya kan luas. Jadi nggak perlu desek-desekan kalo mau masuk dan nggak takut kehabisan tempat kayak di Mesjid Nabawi. Hihihi… Yang menyenangkan lagi, banyak yang suka bagi-bagi makanan sebelum dan sesudah sholat. Saya pernah dapat kurma, biskuit, dan coklat dari anak kecil! :D Keren euy, masih kecil udah diajarin berbagi cemilan sama orang tuanya. :P Nggak kayak kebanyakan anak kecil yang biasanya pelit berbagi cemilan dengan orang lain. Hahaha…

 

Tapi kota Mekah ini ya juga nggak bisa dibilang aman. Salah seorang nenek di rombongan saya sempat kecopetan. :( Lalu saya lihat pengemis-pengemis cilik (biasanya berkulit hitam seperti orang Afrika) di kota ini juga banyak yang penipu. Mereka sengaja memanipulasi tangannya supaya terlihat buntung dan mendapat simpati orang-orang yang lewat. Saya pernah lihat sendiri seorang ibu yang sudah cukup tua (kayaknya orang Arab, sih…) dengan sengaja memegang tangan (yang tentu saja dibuat seolah-olah buntung) salah seorang pengemis cilik yang mengemis diantara orang-orang yang sedang berjalan ke Masjidil Haram. Nah, si pengemis cilik ini tampak nggak nyaman kalo tangannya dipegang-pegang dan lalu menendang-nendang si ibu dengan kakinya karena takut ketahuan kalo nipu. Duh…

 

Selain ibadah rutin ke Masjidil Haram, rombongan saya juga mengunjungi tempat-tempat bersejarah lain di kota Mekah ini. Mending langsung lihat foto-fotonya aja, yak… :

 

Hal mengagumkan lainnya yang sampai sekarang membuat saya penasaran adalah……. Kok bisa ya telapak kaki sama sekali tidak merasa kepanasan saat menginjak lantai keramik di luar Masjidil Haram dan lantai keramik tempat thawaf (di depan Ka’Bah) padahal suhu di Mekah itu jauh lebih panas ketimbang di Madinah. Dan kenapa ya saya sama sekali tidak merasa keringetan meskipun sudah mengelilingi Ka’Bah sebanyak 7 kali (desek-desekan pula sama rombongan dari negara lain :P ) saat thawaf? :)

 

Postingan berikutnya adalah cerita pengalaman di Jeddah menjelang kepulangan ke tanah air. :D

 

nb: sumber foto paling atas dari sini

10 thoughts on “Umroh #2: Mekah

  1. saat umroh tentu tidak seramai haji. masjidil haram yang besar itu di saat haji tetap saja penuh sesak. tawaf dan sa’i berdesak-desakan.

    soal bagi-bagi cemilan, di hari senin dan kamis biasanya pada berbagi cemilan untuk berbuka puasa sunnah. di masjid nabawi, mereka yang di barisan paling depan mendapatkan kurma dan kupi.

    mengapa tidak berkeringat sehingga tak mandipun tak bau? :D karena kelembaban udara yang rendah.

    wallahu alam bi shawab…

    • Eh, bagi2 makanan ini tiap hari loh, mas. Ga cuma senin dan kamis aja. :D Dan di saat umroh aja, Mesjid Nabawi udah penuh sesak. Ga kayak di Masjidil Haram.

  2. alhamdulillah kalo ibadahnya lancar :)

    dan kenapa toh tiap buka blogmu ini, selalu otomatis keluar Microsoft Script Editor ? :|

  3. jalanan di mekkah lumayan brutal. mobil2 mahal nggak terawat, dan senggolan pun hal biasa. satu hal yg mengecewakan adalah… jauh2 pergi ke arab, dikasih makan nasi kuning di penginapan. haha, mending keluar ke pasar cari kebab, martabak atau jajanan asli timur tengah :9

    • Iya, penginapan di sana memang cenderung menyesuaikan masakan dengan lidah para tamunya. :D Kalo mau wisata kuliner mending nggak di penginapan. :P

  4. Heheh,, aku punya travel umra&hajj,, kalo dpt makan catering di hotel nya bgituu, ituu sesuai budget nya,, kalo mauu makanan western yaa haruz yng ambil umra *5 heheh,, wajib disyukuri masih bisa makan, kan tujuan utama kita ke mecca semata ² untk ibadah , bukan jalan ² nya, kalo jalan ² cantik ke Europe heheh,, baguss bgtt dehh posting nya mba nilla seruuu :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *