Kesedihan Itu Bernama: Perpisahan

Saya mendadak mellow. Tiba-tiba menjelang jam pulang kantor kemarin sore salah seorang teman kantor berkata, “Lo hari Selasa masih masuk nggak, Nil? Masuk aja, donk. Gw tugas ke luar kota nih sampe hari Senin. Huhu… Kan sedih kalo nggak ketemu lo lagi.” Eh? Apa??? Agak kaget pas denger kata-katanya itu. Tapi rasa kaget itu saya tutupi dengan sebuah senyuman. Bahkan becandaan: “Haha… Engggg… Masuk nggak, yaa… Ummm…”

 

Jujur. Mendadak saya sedih. Sedih karena menyadari waktu saya di kantor ini sudah tidak lama lagi. Hanya tinggal hitungan hari. Mendadak sedih ketika menyadari bahwa teman-teman di sini tidak akan lagi menjadi bagian dari keseharian saya. Padahal di kantor ini saya sudah merasa dekat dengan banyak orang di semua bagian. Meskipun tidak semuanya yang saya kenal dengan baik karena jumlah karyawannya yang terlampau banyak.

 

Ini adalah pengalaman pertama resign buat saya. Kebetulan kantor yang akan segera saya tinggalkan ini adalah kantor pertama tempat saya bekerja sejak lulus kuliah. Di sini saya belajar banyak hal. Dari yang nggak tau apa-apa tentang dunia kerja jadi banyak tau. Diberi kesempatan banyak sekali belajar yang mungkin jarang diberi di perusahaan lain. Susah senang pernah saya alami selama bekerja 2,5 tahun di kantor ini. Yah… Mungkin nggak jauh beda dengan pengalaman bekerja orang lain di tempat kerjanya masing-masing. Yang jelas kesan saya baik terhadap kantor yang akan segara saya tinggalkan ini. Hampir semua boss nya bisa akrab dengan saya dan bisa saya teladani. Lingkungan kerjanya sangat kekeluargaan dan tidak mengenal senioritas.

 

Itulah yang menjadi pertimbangan paling berat bagi saya sebelum memutuskan untuk pindah kerja. Iya, lingkungan kerja yang sangat nyaman dan banyak sekali pelajaran berharga yang bisa saya dapat itu yang rasanya sangat sulit ditinggalkan. Tapi, saya sudah pikirkan cukup lama dengan berbagai macam pertimbangan hingga akhirnya memilih untuk pindah. Rasanya nggak etis juga saya sebut alasannya secara eksplisit di sini, kan? :) Apapun itu, semoga pilihan yang sudah saya ambil memang yang terbaik buat saya. Syukur-syukur jika juga berdampak baik bagi orang lain.

 

Berkali-kali menjelang hari “perpisahan” saya mendengar kata-kata ini dari mulut teman-teman sekantor, “Meskipun udah nggak sekantor lagi, kita keep in touch, kan?” Oh, tentu! :) Saya cuma pindah kerja. Bukan berarti sudah benar-benar tidak ada lagi. Jadi tidak ada alasan untuk tidak keep in touch. Pasti ada saatnya nanti saya mengajak teman-teman di kantor ini ngumpul-ngumpul bareng. ;) Apalagi lokasi kantor yang lama dan yang baru juga nggak jauh. Sewaktu-waktu masih bisa janjian makan siang dengan mereka. ^^

 

Suatu hari nanti saya akan kangen dengan cerita-cerita seperti yang pernah saya tulis di karegori Office pada blog ini. Kangen suasana divisi yang sangat kompak itu. Sungguh, berat sekali hati ini untuk berpisah… :’)

 

12 thoughts on “Kesedihan Itu Bernama: Perpisahan

  1. track record saya: kerja serabutan sejak sebelum lulus, kerja yg ga sesuai bidang + sekali pindah, dan hampir sekali pindah sebelum akhirnya berurat akar di tempat kerja saya sekarang, yg menurut saya cukup menyenangkan
    Anw, semoga mendapatkan yg lebih baik di tempat yang baru :)

  2. im gonna miss u nilla :*

    satu persatu menghilang ya *tika-kamu-jng bilang hendy menyusul…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *