Akhirnya… Bisa “Curhat” juga di Media Cetak

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat sebuah sms dari nomor tak dikenal:

 

Hmmm… Sebelum menjawab sms tersebut, saya mengkonfirmasikannya terlebih dahulu kepada Hendy, salah seorang teman di kantor lama yang tahun lalu memang pernah berencana pergi ke Singapura bersama saya dengan maskapai penerbangan Mandala. Namun karena Mandala sempat berhenti beroperasi, maka kami pun tidak jadi berangkat ke Singapura dengan Mandala saat itu, yang mana cerita lengkapnya pernah saya posting di sini.

 

Tadinya, saya memang berencana menulis kekecewaan saya terhadap Mandala di blog. Namun masih urung saya lakukan karena berbagai pertimbangan (salah 1 nya sih, males juga kalo postingan itu nantinya berbuntut panjang mengingat masih samarnya hukum mengenai kebebasan menulis dan berpendapat di media online ini). Jadi ketika ternyata ada sebuah media cetak yang ingin menjadikan saya sebagai nara sumber berita terkait kasus ini, saya senang sekali. Saya sambut dengan baik karena sudah lama sebenarnya saya ingin “memuntahkan” kekecewaan saya yang nggak habis-habis terhadap Mandala (yang mana tentu saja ada banyak sekali orang seperti saya di luar sana). Meskipun saya yakin sih, ini bukan pertama kalinya ada media yang berusaha mengusut kasus ini dan mengungkapkannya melalui media elektronik, cetak, maupun online. Tapi baru kali ini ada media yang menawarkan saya sebagai nara sumber beritanya.

 

Akhirnya wawancara via telepon antara saya dan mas wartawan pun terjadi. Banyak hal yang ia tanyakan kepada saya. Untungnya saya masih memiliki memori kuat tentang kasus ini sehingga tidak sulit bagi saya untuk mengungkapkannya. Setelah semua pertanyaan saya jawab, si mas wartawan bilang bahwa beritanya akan dimuat di Koran Kontan terbitan Hari Senin berikutnya (16 Juli 2012) jika tidak ada perubahan.

 

Maka, inilah berita yang sudah dicetak tersebut:

 

Dan inilah bagian yang memuat nama dan sedikit cerita saya di bagian berita tersebut:

 

Semoga dengan adanya berita ini, semakin banyak orang yang ngeh bahwa ada banyak sekali konsumen yang dirugikan oleh Mandala. Tidak hanya kerugian berupa uang, namun juga waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk refund yang sangat menyusahkan dan justru semakin merugikan konsumen.

 

Sedikit flashback:

  1. Saya membeli tiket Jakarta-Singapura PP untuk 4 orang sejumlah sekitar 2,5juta pada bulan Januari tahun 2011. Beberapa hari sebelum berangkat, mendadak Mandala berhenti beroperasi sehingga saya harus susah-susah mencari tiket pengganti (yang mana harganya sudah jadi lebih mahal).
  2. Tidak hanya panik dan repot mencari tiket pengganti, saya pun terpaksa ijin dari kantor untuk mengurus refund tiket ke kantor pusat Mandala di Tomang (seperti yang pernah saya tulis di sini).
  3. Proses refund ternyata sangat sangat lama! Yang tadinya diinfokan bahwa proses sekitar 45 hari, lalu 1,5 bulan, dan ternyata? Lebih dari setahun kemudian barulah Mandala benar-benar menepati “janjinya”.
  4. Kekecewaan tidak sampai di sana. Ternyata penggantian tiket yang sudah dibeli TIDAK berupa uang, melainkan dengan voucher seharga TOTAL tiket dan HANYA bisa digunakan untuk 1x transaksi. (eh gila aja, ya! Tiket total 2,5juta itu kan tiket 4 orang! Masa kami “dipaksa” liburan bersama lagi karena harus mencairkan tiket ini???)
  5. Apakah kekecewaan HANYA sampai di sana? Ternyata tidak! Buka deh web Mandala (www.mandalaair.com). Rutenya ngeselin abis!!! Masa rute domestiknya CUMA Jakarta-Medan??? Menurut lo??? Bakal gw pake tuh voucher???

 

Ok, sebelum saya kembali emosi… Saya sudahi saja postingan ini. :|

8 thoughts on “Akhirnya… Bisa “Curhat” juga di Media Cetak

  1. ganti rugi itu kan kewajibannya pihak mandala.
    membatalkan layanan mendadak itu sendiri sudah merugikan, ganti ruginya juga valuenya nggak impas :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *