Pesta Pernikahan Menurut Saya…

Setiap saya bilang ke orang-orang bahwa nantinya saya tidak ingin mengadakan pesta/resepsi pernikahan, pasti tanggapan mereka hampir selalu sama:  “Lo cuma becanda, kan?” Padahal saya serius, loh. Bukannya mau sok beda atau anti mainstream, sih… Tapi memang saya merasa nggak sebegitu pentingnya juga pesta pernikahan itu. Setidaknya buat saya pribadi.

 .

Saya ngerti, bagi sebagian (mungkin sebagian besar) orang, pesta pernikahan itu penting. Momen yang semoga hanya sekali seumur hidup katanya. Ok lah, saya setuju. Tapi bagi saya sendiri, mengenang “momen penting yang semoga hanya sekali seumur hidup” itu nggak harus dengan mengadakan pesta pernikahan. Buat saya, menikah itu sudah cukup dengan ritual di KUA. Lalu mengadakan syukuran di rumah dengan kerabat dekat. Just that. Tanpa perlu menghamburkan uang yang tidak sedikit untuk acara yang cuma… Ngggg… 3-4 jam? :| Buat saya, agak nggak sepadan aja. :)

 .

Hal yang menurut saya tidak sepadan ini, sayangnya sudah menjadi tradisi. Nggak cuma di negeri ini, tapi juga di luar negeri kan? Setiap saya tanya sama yang mau nikah, “Kok lo segitu repotnya sih ngurusin pesta pernikahan lo? Ribet gitu kayaknya.” dan hampir selalu dijawab dengan, “Yah maklumlah. Ini kan acara buat keluarga besar juga. Jadi banyak yang diurus. Banyak printilannya.” Ribet. Tapi nggak apa-apa, buat keluarga besar. Atau nggak enak sama keluarga besar. Selalu dijadikan alasan kenapa “budaya” ini masih terus dipertahankan. Padahal kalo menurut saya yah… Nantinya yang menjalani pernikahan itu cuma berdua, toh? :) Tanpa mengurangi rasa hormat pada nama “keluarga besar” yah… Keluarga besar memang penting dan memang perlu memperkenalkan “keluarga baru” ke keluarga besar. Tapi yah menurut saya nggak dengan acara super mewah dan printilan super ribet yang buntut-buntutnya cuma bikin stress yang mau nikah.

 .

Waktu saya ngetwit tentang hal ini di twitter beberapa bulan yang lalu, sempat ada yang nyeletuk, “Nikah itu sebenarnya murah. Yang mahal itu gengsi.” Hooo… Jadi ada yang beranggapan bahwa acara pesta pernikahan yang megah dan mewah itu biasanya sengaja diadakan untuk menjaga “gengsi” keluarga. Hmmm… Entahlah ya. Tapi ya, bisa jadi. :D Tergantung orangnya. Cuma kalo untuk saya pribadi, males amat mikirin gengsi. Haha… Bahkan saat saya mengutarakan keinginan saya untuk tidak ingin mengadakan pesta pernikahan, toh kedua orang tua saya setuju-setuju aja tuh. Dan menyerahkan apapun keputusannya di tangan saya. Jadi ortu saya pun juga nggak peduli dengan gengsi-gengsi itu. :P

 .

Menurut saya, dari pada mengeluarkan uang ratusan juta (yang mana, mungkin aja ini hasil ngutang bertahun-tahun, loh. :D ) untuk mengadakan pesta pernikahan, lebih baik menggunakannya untuk bulan madu aja. Jadi yah saya itu pengennya kalo memang punya tabungan yang cukup banyak, saya mau nikah di KUA aja. Ngundang kerabat dekat dan syukuran di rumah. Nggak pake pesta-pestaan. Nah, bulan madunya itu baru yang mewah. Mwahahahaha… Ya nggak mewah gimana juga lah. Yang jelas bukan bulan madu irit ala backpacker. Pengen juga kan ngerasain jadi raja dan ratu selama beberapa hari. XD Begitulah cara saya mengenang “momen penting yang semoga hanya sekali seumur hidup”. Jalan-jalan dan berpetualang berdua bersama pasangan sebagai suami istri. Pasti akan seru sekali! ^^ Dan biayanya tidak akan sebesar mengadakan pesta/resepsi pernikahan di gedung.

 .

Setiap orang punya cara masing-masing dalam mengukir kenangan di dalam hidupnya. Saya, semoga bisa mewujudkan cara saya sendiri. :) InsyaAllah… Memang tidak tertutup kemungkinan nantinya saya akan mengadakan pesta pernikahan. Karena saya juga harus menyesuaikan dengan keinginan dan tradisi keluarga dari pasangan saya. Tapi, kalau saja boleh, kalau saja keinginan saya didengar, saya ingin sekali tidak mengadakan pesta pernikahan. :)

19 thoughts on “Pesta Pernikahan Menurut Saya…

  1. aku pengennnya sih yang sederhana aja, biar ngirit dan duitnya bisa dialihkan ke yang lain (misal bulan madu atau DP rumah). Tapi berhubung calon aja belum ada, jadi kepengenan ini bisa saja berubah ketika calonnya ada.

    tapi ya bagian yang ga nahan tuh musti pasang senyum manis dan difoto sepanjang acara resepsi, pipi bisa pegel :D

  2. IMHO tradisi ini dimulai dari ketentuan kalo nikah itu harus diumumkan agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari.
    IMHO juga, diumumkan engga perlu kok besar-besaran. karena sekarang bisa diumumkan lewat ganti status di fb, broadcast message, dan profile picture :D

    jadi kapan? #eaaa

  3. Ohhhh, namanya nikah wisata itu Nil. Aku juga mikirnya mendingan nikah wisata aja daripada duit habis utk bayar gedung, pesen gaun nikah yang mahal, dan ketebelece lainnya. Tapi yah itu lah… Batak. Pasti susah tuh kalo mau nikah wisata doank tanpa acara adat yang gila2an. Bukan cuma 3-4 jam, bisa 12 jam nonstop acaranya :))

  4. Aku termasuk yg sepaham denganmu. Tapi kadang susah untuk gak pake perayaan, orang tua punya persepsi beda (seperti kata nengbiker – supaya ga ada fitnah). Jalan tengahnya sih “pesta” tapi sederhana aja. Di rumah aja. Trik kami dulu adalah: bener2 pakai uang sendiri dari a-z, dan nggak minta bantuan keluarga. Jadi bargaining positionnya lebih kuat, :)) Tapi yah… Terbantu juga karena kawinnya dadakan wahahahahaha!

  5. Resepsinya kan pestanya orang tua, coba diitung berapa persen undangan dari orang tua dan berapa persen dari temen mempelai.

    Jadinya ya tergantung orang tua mau keluar duit berapa :))

  6. Kalau aku kemarin mengadakan pesta pernikahan alasanku justru karena aku ingin membagi kebahagiaan dengan teman2ku yang datang dari berbagai kota :D
    Aku sama sekali tidak berpikir gengsi, bahkan akupun sudah tidak punya kedua orang tua dan keluarga besar justru membebaskanku dalam pernikahan, begitu pula dengan mama suamiku. Karena aku yang menanggung biayanya sendiri, maka aku membuat syukuran pernikahanku simple tapi akrab. Dan aku bahagia bisa melihat cah2 loenpia dari berbagai kota berkumpul :D

  7. pendapatmu aku setuju,
    tapi walimah juga sunnah, dan kebetulan kalo dikampungku pestanya sederhana, gak pake nyewa gedung, biasa pake tenda depan rumah hehe
    sekian dan terima undangan ASAP

  8. Semuanya itu pendapat/pemikiran bukan berarti benar tp bukan jg salah. Semua tergantung kita yg putuskan. Kalo mau besar ya besar jg sebaliknya. Intinya jgn sampai ada penyesalan di kemudian hari.

  9. Sependapat dg “nengbiker” , ngadakan pesta untuk :
    1. harus diumumkan agar tidak terjadi fitnah (sesuai di agama qt).
    2. adakan saja di rumah, & pilih paket yg sederhana.
    3. silaturahmi (saling mengenal) dengan “kedua keluarga besar” yang
    baru dipertemukan melalui ikatan pernikahan ini.
    4. kalau diadakan di rumah, waktu cukup panjang & lama sehingga bisa
    berbincang-bincang dg “kedua keluarga besar” yg sudah lama tidak
    bertemu dan menjalin keakraban.
    5. apalagi dengan teman-teman sekolah yg sdh lama tdk bertemu.
    6. dll, dsb, dst

  10. ga pernah ngonsep sama nikahan. kalo emang dua orang udah sama2 sayang, sama2 cinta (atau sama2 horny), ya udah. do it. ga usah nikah juga ga papa. asal ga PDA aja dimana2 grepe2.

    etapi itu mah gw ya. dan di Bali pun. ahahahaha
    *lalu dikeplak*

  11. saya sependapat dengan anda.
    langsung k KUA trz syukuran biasa saja.
    namanya juga d kampung.tanpa pesta pun tidak akan menyebabkan fitnah.
    :D

  12. Saya sependapat dgn anda, menikah tidak harus mengadakan pesta, hanya saja yang kurang sependapat bulan madu yg mewah, yah bulan madu yg sederhana aja juga bisa berkesan. Dari pada nurutin gengsi, mending anggarannya digunakan untuk kepentingan buah hati. Banyak orng yg menikah mewah sekali, tetapi untuk menyekolahkan anaknya mampunya di S3 (sekolah sangat sederhana). Bukankah kita hidup, kita berjuang untuk buah hati kita. Coba dibayangkan bangganya orang tua jika buah hatinya menjadi Profesor, Dokter terkenal, Arsitek Unggulan, apakah ada kesan seumur hidup yg mengalahkan itu semua?

  13. wah setuju bgt… aq gk kepengen pesta pernikahan…tpi pengen bulan madu nya.. heheh.. seru tuh jln2 bdua ketempat yg romantiss… asyykkk

  14. setujulah nikah tanpa resepsi,niatnya tahun ini saya mau menikah tanpa resepsi,hanya akad dan langsung makan2.jadi ga repot.sebelumnya saya dan calon saya ingin adain resepsi tp baru survey sana sini kita berdua fikir2 lg,ini kita untuk apa?wajib memangnya?kok kita jd ga fokus urusin surat2 ke KUA(intinya) malah repot resepsi.dan akhirnya kita putuskan tanpa resepsi,alhamdulillah keluarga calon saya setuju walaupun dari ibunya agak kecewa tp saya terus yakinkan ibunya. doakan lancar ya ;) saya laki2 agak berat rasanya memang bilang ke orang tua wanita. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *