Suka Duka Naik Kereta

Sudah beberapa bulan terakhir ini saya sehari-hari pulang pergi ke kantor dengan kereta/commuterline. Hmmm… Pengalaman pertama saya naik kereta/commuterline sebenarnya tidak buruk. Saat itu gerbongnya sepi dan nyaman-nyaman aja. Tapi setelah itu? Saya cukup kaget karena situasinya jauh berbeda dengan saat saya naik kereta pertama kali. Penumpang rame sehingga harus berdiri dan berdesak-desakan dengan penumpang lain, jadwal kereta kadang suka kacau, AC kadang tidak terasa sehingga begitu gerahnya di dalam gerbong itu. Duh, amit-amit deh rasanya waktu itu kalau saya harus naik kereta setiap hari.

Jadi waktu diberi tau bahwa saya akan ditugaskan di kantor klien selama setahun yang berlokasi di Jakarta, saya cukup shock, sih. Hahaha… Membayangkan saya akan berada di dalam kereta setiap hari di jam pergi dan pulang kantor. Cukup horror rasanya. Kalau saja klien yang dimaksud bukanlah klien besar yang akan memberikan saya banyak pengalaman, tawaran dari atasan saya tersebut sebenarnya ingin sekali saya tolak. Namun akhirnya karena beberapa pertimbangan, saya setuju untuk ditempatkan di kantor itu.

Apa yang saya rasakan setelah mengalami sendiri bepergian setiap hari dengan kereta? Hmmm… Jujur saja, rasanya cukup beragam meskipun hampir selalu perasaan tidak enak dan kurang nyaman yang dirasakan. Setiap pagi di kereta saya melihat wajah-wajah mengantuk para pekerja kantoran yang terpaksa bangun awal agar tidak telat datang ke kantor. Lalu setiap malam, wajah-wajah lelahlah yang mendominasi. Meskipun kalau naik kendaraan umum lain seperti bus juga situasinya akan hampir sama persis. Tapi di gerbong-gerbong kereta ini, rasanya agak berbeda. Saya bisa jamin, orang-orang yang tahan setiap hari naik kereta jabodetabek adalah orang-orang yang tabah dan kuat.

Bayangkan. Setiap hari harus berdesak-desakan dengan penumpang lain sampai-sampai kadang rasanya badan seperti mau remuk karena penumpang di gerbong terlalu penuh sehingga harus terjepit diantara penumpang lain. Bisa duduk di dalam kereta seolah adalah hal yang nyaris mustahil. Jadi persiapkan kaki Anda agar dapat berdiri kuat dan tegap bahkan di saat ada guncangan di dalam gerbong kereta.

Namun sukanya… Justru karena senasib dan sepenanggungan inilah para penumpang kereta biasanya lebih solid. Mau berbagi ruang yang sangat terbatas dengan penumpang lain. Belajar untuk tidak egois. Mengalah pada yang tua, sakit, atau hamil. Meskipun yah kadang ada saja yang bersikap cuek dan tak peduli pada yang membutuhkan kursi. (Ssstt… Jangan salah! Bahkan di gerbong wanita pun situasinya bisa lebih buruk. Perempuan hamil malah akan lebih mudah mendapat kursi di gerbong campur yang ada laki-lakinya ketimbang di gerbong khusus wanita. Yah, sesama wanita kadang memang lebih tega, sih…)

Terus saya jadi bisa membedakan, mana penumpang yang memang biasa naik kereta dan mana yang tidak. Bahkan saya bisa menebak mana penumpang yang baru pertama kali naik kereta. Karakternya kebaca banget, sih. Bagi yang baru pertama kali naik kereta, biasanya akan lebih kaget dan gampang BT saat tersenggol/terdorong oleh penumpang lain (yang mana sebenarnya adalah hal yang sangat lumrah di kereta, sih…). Yang sesekali naik kereta, biasanya mudah terlihat stress dan mengeluh kalau kereta terasa panas dan penuh sesak. Nah, kalau yang sudah biasa dan tiap hari naik kereta, biasanya memang lebih “lempeng”. Mau ada yang senggol kanan-kiri ya cuek aja. Mau kejepit pun kadang pasrah. Ya mau gimana lagi? Begitulah resikonya naik kendaraan umum.

Pada akhirnya, pelan-pelan… Saya mulai menikmati sih keseharian dengan berkereta. Meskipun tiap pagi saya melihat wajah-wajah mengantuk dan tiap malam saya melihat wajah-wajah lelah, di balik semua itu… Saya seperti melihat banyak sekali ragam kehidupan. Saya pernah kagum melihat seorang ibu muda hamil yang dengan tekun dan sabar membaca al-quran di dalam gerbong kereta yang padat. Di lain waktu saya pernah melihat seorang ibu mati-matian meminta penumpang lain untuk memberikan kursi kepada anaknya yang masih kecil. Lalu di kesempatan lain saya pernah melihat seorang perempuan bertengkar dengan seorang bapak yang ngotot tidak mau pindah gerbong padahal dia masuk gerbong khusus wanita. Ah, terlalu beragam dan iya, menarik untuk diperhatikan… :)

Oh btw tentang kecelakaan kereta vs truk BBM yang kemarin itu… Miris sekali ya. Saya sangat sedih menonton beritanya di TV. Itu jalur kereta yang saya lalui setiap hari. Persis! Jika kemarin saya berangkat ke kantor lebih siang, saya pasti berada di kereta naas itu, di gerbong itu… Tapi alhamdulillah saya masih diselamatkan Tuhan. :) Oh, saya tidak kapok naik kereta. Tidak jadi semakin takut juga. Ah, kematian bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja kok… Tidak ada yang perlu ditakutkan.

3 thoughts on “Suka Duka Naik Kereta

  1. dengan membaca pengalaman mbak makin nambah hati hati dalam naik kereta yang bahayanya tidak bisa disadari kapan datangnya.. dengan membaca pengalaman ini bisa tau apa yang terjadi dalam kereta karena saya belum pernah naik kereta he..he..

  2. apa yang mba nilla katakan ini benar loh… saya kadang2 suka loh naik kereta commuterline jabodetabek dari depok tujuan gondangdia… dan realita yang terjadi adalah sama seperti yang mba nilla katakan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *