Less you have, more you value it.

Suatu hari saat saya membuka Facebook, saya melihat sebuah posting dari The Muslim’s Show di timeline. Postingannya seperti ini:

*klik gambar untuk memperbesar*

Yang menarik perhatian saya kemudian adalah salah 1 komentar pada posting tersebut:

The less you have the more you value it.

Hmmm… Satu kalimat yang “ngena” banget dan memang menggambarkan ilustrasi komik tersebut. Semakin sedikit kita punya, maka akan semakin berharga hal itu buat kita. Kalimat sederhana yang menurut saya pemahamannya sangat besar. Tidak hanya menyangkut soal materi. Tapi juga hal-hal lain.

Lalu tiba-tiba saya teringat sesuatu…

Saya punya teman. Anggap saja namanya si A. Dia ini punya pacar yang sangat perhatian dan loyal terhadap hubungan mereka. Rajin bilang sayang, rajin menunjukkan perasaannya ke si A lah pokoknya. Bahkan juga rajin menguras isi dompetnya demi si A. Namun, si A malah merasa semua sikap pacarnya ini biasa saja. Si A merasa bahwa memang seperti itulah seharusnya sikap seorang pacar. Jadi, si A merespon sikap pacarnya tersebut dengan biasa aja. Tidak istimewa. Bahkan kadang ia sempat muak dan bosan dengan perlakuan dari pacarnya yang begitu loyal.

Lain lagi dengan si B. Ia punya pacar yang cuek. Sayang sih sebenarnya, tapi cenderung cuek dan tidak ekspresif dalam menunjukkan perasaannya pada si B. Balas obrolan di SMS atau aplikasi chatting suka lama, udah gitu singkat-singkat pula balasannya. Ngasih sesuatu juga kalau si B pas lagi ulang tahun aja. Hal ini malah membuat si B bisa jerit-jerit kesenengan kalau tau-tau pacarnya balas SMS dengan kalimat yang panjang atau mendadak kasih kejutan yang memang jarang sekali ia berikan pada si B. Sikap si B terhadap sikap pacarnya yang di luar kebiasaan tersebut bahkan kadang diabadikan si B dengan menyimpan SMS itu baik-baik dan tidak akan pernah menghapusnya. Iya, hanya SMS!

Dua kondisi yang berbeda.

Bagi si A yang selalu mendapat perhatian dan sikap kasih sayang yang melimpah dari pacarnya, sikap si B adalah sangat berlebihan. Lebay. Namun bagi si B tentu tidak. Ia bahkan menganggap sikap si A kepada pacarnya adalah bentuk sikap “tidak tau diri”/”tidak tau diuntung”. Wajar? Ya wajar saja… Si A terlalu sering mendapat “banyak” dan si B terlalu sering mendapat “sedikit”. Mana yang lebih bisa menghargai?

Contoh lainnya sebenarnya sangat banyak. Coba diingat, berapa kali kita “membuang” makanan cuma karena kita lagi bosan memakannya (akibat terlalu sering memakan makanan itu?). Berapa kali kita membiarkan keran air terbuka padahal airnya juga tidak sedang digunakan. Berapa kali kita mengabaikan uang receh dan membiarkannya berceceran dimana-mana.

Bayangkan kalau persediaan makanan sudah semakin sedikit…

Bayangkan kalau persediaan air sudah semakin menipis…

Bayangkan kalau tabungan sudah hampir terkuras sehingga yang tersisa hanya uang receh yang berceceran dimana-mana…

Tapi apakah kita harus mendapat “sedikit” dulu baru bisa menghargai sesuatu? Kita kadang tanpa sadar terbuai dengan semua hal “banyak” yang Tuhan berikan kepada kita. Lupa atau bahkan tidak pernah tau bagaimana rasanya jika punya “sedikit”. Lupa. Oh, itu manusiawi sekali… Sah-sah saja sih lupa. Asal… Nanti-nanti harus ingat kembali, ya. Selalu berusaha ingat bahwa sebanyak apapun yang kita punya/dapatkan, kita akan selalu menghargainya.

Oh, tidak. Saya tidak sedang menggurui. Saya sedang membuat reminder untuk diri saya sendiri. :)

9 thoughts on “Less you have, more you value it.

  1. Pernah nonton acaranya Nick Baker di satu episode dimana dia bertemu dengan suku pedalaman Australia.
    Karena tinggal di gurun (gersang), jadi penduduknya hidup sangat sederhana sekali. Dan hiburan mereka hanya dengan membuat lukisan2 di wajah, seperti kumis dan coreng2 di pipi, tapi itu sudah membuat mereka tertawa..
    nice article, anyway ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *