Lembur

Beberapa waktu yang lalu sempat heboh berita tentang seorang pekerja yang meninggal dunia karena kebanyakan lembur. Yah setidaknya itulah poin yang selalu disampaikan terkait kasus ini. Di samping seperti apa pekerjaannya, seperti apa caranya bekerja, dan hal-hal lain yang juga ikut menambah informasi pembahasan namun.

Nah, kebetulan banget beberapa hari yang lalu tim saya mendapat surat lembur dari klien. Isinya seperti ini:

Wah, kok bisa pas gitu ya? Maksudnya pas lagi ada berita tentang meninggalnya pekerja yang kebanyakan lembur, pas pula saya dan teman-teman setim disuruh lembur sampe akhir bulan ini. Hmmm… Ya memang sih, kegiatan akhir tahun di beberapa perusahaan biasanya justru sedang tinggi-tingginya menyangkut beberapa faktor. Makanya, sebelum surat lembur ini diterima saya sudah tau sih kalo tiap akhir tahun pasti akan disuruh lembur.

Hari pertama lembur, saya berangkat pagi ke kantor, sekitar jam 5an pagi. Sampai kantor jam 7 pagi kurang. Dan mau tau saya selesai bekerja jam berapa? Hampir jam 10 malam. Hehehe… Itu pun sesekali saya sambi dengan mengerjakan tugas kuliah dan keperluan thesis mengingat sabtu ini saya harus menghadap dosen pembimbing thesis lagi dan submit proposal ke kampus. Super hectic hari itu. Capek secapek-capeknya. Pulang-pulang lemes dan badan saya berasa pegel dari ujung kepala sampe ujung kaki. Sampai rumah saya langsung tidur tanpa melakukan hal-hal lain lagi.

Hari kedua untungnya tidak se-hectic itu. Saya mulai belajar membagi waktu dan tenaga. Mulai menjaga makan dan mensuplay beberapa vitamin. Vitamin loh, ya… Bukan minuman penambah energi. :) Bahkan kopi pun saya kurangi dan memperbanyak minum air putih. Saya juga berusaha tidak pulang terlalu malam karena besoknya saya masih harus ke kampus. Dan Alhamdulillah saat tiba di rumah kembali, saya masih punya tenaga untuk mandi dan mengoreksi kembali proposal thesis untuk saya submit esok harinya.

Sebenarnya lembur adalah hal yang biasa sih bagi sebagian besar pekerja. Yang saya tau persis adalah pekerja yang bekerja di bidang IT (karena saya bekerja di bagian ini). Di kantor mana pun, ada saatnya harus lembur. Saya masih inget banget saat saya masih bekerja di kantor lama. Situasinya juga hampir sama persis. Tidak peduli saya ini adalah programmer cewe satu-satunya, tetap harus pulang larut malam sekali atau bahkan menginap di kantor bareng temen-temen setim yang cowo-cowo.

Tidak sehat, memang. Saya selalu jadi sakit kalau keseringan bekerja terlalu keras. Tapi sadar nggak sih, apa yang membuat kita (para pekerja lembur ini) mau bekerja overtime seperti itu?

Uang lembur? Takut sama atasan? Cuti tambahan? Tunduk pada deadline yang mepet? Ah, saya rasa tidak juga… Saya pernah survey kecil-kecilan tentang hal ini dan hasilnya cukup mengejutkan: pekerja mau bekerja lembur karena rasa tidak enak. Iya, tidak enak pada teman-teman setim yang mau bekerja lebih keras. Tidak enak pada atasan yang mampu meminta bawahannya untuk lembur dengan cara yang halus. Tidak enak pada klien yang sudah dijanjikan hasil pekerjaan yang bagus. Intinya sih, tidak enak. Kepada apapun itu. Bener, nggak? :) Tidak enak, tapi tetap merasa bertanggungjawab terhadap pekerjaannya loh, ya…

Tentunya tidak semua pekerja juga sih yang mau bekerja lembur karena alasan tidak enak itu. Saya percaya kok di luar sana beneran ada pekerja yang workaholic. Yang kalo nggak kerja overtime mungkin malah bisa bikin sakit badannya. Hehehe… Itu beneran ada, loh. Karena ritme bekerjanya sudah terbiasa sebegitu kerasnya sehingga badannya menolak saat tiba-tiba tidak diporsir untuk bekerja. Huff… Untungnya saya tidak seperti itu. Saya masih inget kata-kata pacar saya tiap saya harus bekerja lembur, “Kamu nggak kasihan sama orang-orang yang sayang sama kamu?”. Hehehe… Iya juga, sih.

Poinnya adalah… Kerja lembur boleh. Sah-sah aja dan memang kadang diperlukan. Tapi sesibuk apapun tetap bertanggungjawab sama badan sendiri. Jangan terlalu terlena dengan kesibukan sampai mengabaikan hal-hal penting yang sebenarnya lebih penting: kesehatan badan dan jiwa. Iya, kalo kebanyakan kerja kan juga bisa bikin stress. Nah, stress itu loh yg buntut-buntutnya juga akan mempengaruhi badan. Intinya sih kerjaan itu sebisa mungkin dinikmati aja dan dibuat enjoy aja. Meskipun pada prakteknya kadang susah, yaa… Hahaha… Ngerti banget, deh. ;D

Oh episode lembur masih belum berakhir. Masih ada sekitar seminggu lagi yang harus saya jalani untuk bekerja overtime. Bahkan menjelang tahun baru nanti besar kemungkinan saya harus menginap di kantor karena saya harus bekerja sampai pagi. Hehehe… Tahun baruan di kantor lagi, deh. ;P

2 thoughts on “Lembur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *