Aku dan Hujan

Banyak orang menyukai hujan. Bagi mereka hujan dapat menimbulkan suasana tenang, damai, dan tentram karena seolah semua berjalan lambat di saat hujan. Hujan memancing inspirasi. Banyak karya indah yang terlahir dari hujan. Hujan juga memberi berkah bagi bumi katanya. Tanpa hujan, siapa yang akan menyirami bumi pertiwi?

Tapi aku tidak.

Aku tidak suka hujan. Hujan yang datang saat aku harus berbegas karena diburu waktu.
Aku tidak suka hujan. Hujan yang membuatku jatuh sakit dan meriang.
Aku tidak suka hujan. Hujan yang merusak segala rencana yang sudah susah-susah kubuat.
Aku tidak suka hujan. Hujan yang membuatku celaka. Yang membuatku tergelincir hingga luka.
Aku tidak suka hujan. Hujan yang begitu saja merusak barang yang sudah dengan sangat hati-hati kubawa.

Aku tidak benci hujan. Aku hanya tidak suka. Sama saja? Oh mungkin karena aku terlalu takut tulisanku dibaca oleh para pemuja hujan yang kadang menyamakan hujan seperti Tuhan. Sesuatu yang tidak boleh disalahkan. Padahal hujan adalah ciptaan Tuhan. Apakah semua ciptaan Tuhan harus kita sukai? Lantas mengapa selalu ada saja hal-hal yang kita benci?

Bagaimana aku bisa mencintai sesuatu jika sesuatu itu lebih sering menyakitiku ketimbang membuatku bahagia?

Ada apa sih antara aku dan hujan? Aku sampai lupa kapan terakhir kali kami masih berteman…

stasiun gambir, maret 2014

_________________________

Note: tulisan dibuat saat sedang terkapar meriang setelah 4 hari kehujanan dan kelelahan akibat perjalanan pulang yang terhambat karena hujan turun di saat yang tidak tepat.