Honeymoon yang tak biasa: Naik Gunung!

Rencana tentang honeymoon ini, udah sempat beberapa kali berubah sejak rencana awal. Awalnya saya dan si mas pengennya ke Sawai, Ambon. Kayaknya kok keren banget gitu pemandangan lautnya. Tapi setelah mempertimbangkan jarak, waktu perjalanan, dan biaya transport yg akan dikeluarkan, akhirnya nggak jadi deh. Trus rencana selanjutnya sempat pengen jalan-jalan ke Malaysia dan Singapura. Pertimbangannya karena lebih dekat kalo berangkat dari Riau, pas selesai resepsi. Dan biaya pesawatnya jg murah kalo dr sana. Tapiii… Setelah dipikir-pikir, saya udah pernah ke dua negara itu. Biaya yg akan dikeluarkan jg akan banyak. Jadi rasanya mubazir aja. Lagian jg masih bisa ke sana nanti-nanti kalo udah punya anak. Hehehe…

Akhirnya si mas ngajak honeymoon ke Gunung Bromo. Wow… Selama ini kalo ada temen yang baru menikah, setau saya belum ada yg honeymoon nya naik gunung. Dan saya pun jg belum pernah sama sekali naik gunung. Sementara si mas udah sempat naik gunung beberapa kali sih, tp belum pernah kalau ke Gunung Bromo. Karena saya nggak ada pengalaman naik gunung ya. Jadi awalnya saya sempet agak khawatir jg. Tapi kata si mas sih tenang aja… Karena Gunung Bromo itu gunung wisata, kok. Gunung yang bahkan ibu-ibu pun bakal bisa melaluinya. Hmmm… Ya sudah. Akhirnya saya setuju. Lagian kayaknya bakal seru kalo honeymoon di gunung. Dingin-dingin gimana gitu… Hihihi… *ayooo… pada mikir apaan? hahaha…*

Rasanya honeymoon dengan naik gunung? Luar biasa menyenangkan! Banyak banget yg bisa dilihat. Ah, dr pd saya cerita panjang lebar, mending saya kasih lihat foto-fotonya aja, ya…

Atau bisa dibuka albumnya di link ini:

https://plus.google.com/photos/115607384806276528204/albums/6053573290345244593

Beberapa hal yg pengen saya ceritain:

  1. Saya mengambil paket honeymoon Bromo di sini: Paket Wisata Honeymoon Bromo. Untuk detail agenda dan biayanya silahkan langsung kontak ke sana, ya. ;P Pokoknya total semua biaya honeymoon untuk berdua ini kalo saya hitung habis sekitar 7juta kurang lebih. Udah termasuk tiket kereta pergi, tiket pesawat pulang, makan, dan penginapan.
  2. Perjalanan dr Jakarta ke Malang dengan naik kereta eksekutif. Berangkat tanggal 19 sore, tiba tanggal 20 pagi. Langsung dijemput supir yang sudah dikontak dr H-7. Dari Malang melanjutkan perjalanan dengan mobil sekitar 4 jam ke Probolinggo. Pulangnya naik pesawat dr Surabaya tanggal 22 sore. Perjalanannya jg sama, sekitar 4 jam jg ke Surabaya nya.
  3. Agenda hari pertama sih cuma menikmati pemandangan di sekitar hotel aja, ya. Itu jg udah banyak yg dilihat. Hari ke-dua agendanya melihat sunrise di Bromo, dijemput dengan mobil jeep jam 3 pagi. Super seru karena cukup menegangkan naik gunung dengan jeep menembus kabut tebal dan jalan berjurang. Lalu setelah dr sana ke Kawah Bromo, sempet ngerasain naik kuda di sini. Hihihi… Dilanjutkan dengan ke Savana (bukit Teletubbies) dan Pasir Berbisik. Agenda hari ke-3 (sebelum pulang), masih sempet ke Air Terjun Madakaripura yg konon adalah tempat Majapahit bertapa.
  4. Saat ke Air Terjun Madakaripura sebenarnya sempet ada kejadian yg nggak mengenakkan. Jd tuh saya dan si mas sepakat nggak mau pake pemandu pas masuknya. Soalnya pemandunya kok semuanya pd maksa gitu ya. Jd nggak nyaman aja. Akhirnya kami nekad menjelajahi sungai berbatu menujur air terjun berdua aja, tanpa pengawasan dan pemandu. Beneran berdua. Waktu kami masuk, belum ada orang lain yg jg masuk ke sana. Jd agak-agak khawatir jg sebenarnya. Hihihi… Ya kewaspadaan aja sih yg ditingkatkan. Nah, pas udah deket air terjunnya tuh kami istirahat sebentar di sebuah warung kecil gitu. Minum kopi sambil makan gorengan. Tiba-tiba donk dr arah air terjun terdengar suara batu besar yg jatuh dr atas. Menggegerkan banget suaranya. Trus tau-tau ada sekitar 4 orang mahasiswa yg berlarian ke arah kami, panik gitu. Pas nanya ke yg punya warung, katanya, ada monyet-monyet di gunung yg sengaja melemparkan batu ke bawah karena mahasiswa-mahasiswa itu sering menjerit-jerit selama berada di kawasan air terjun. Jadi mungkin monyet itu (atau barangkali “penunggu” yg lain?) merasa terganggu. Hiiii… Horror jg, ya. Karena pertimbangan inilah, akhirnya saya dan si mas memutuskan nggak sampai ke air terjun aja jalannya. Soalnya takutnya kalo terlalu dekat dengan air terjun, nggak lucu aja kalo ketimpaan batu besar dr atas. :| Padahal katanya air terjunnya bagus banget, looohh… huhuhu…
  5. Nah, pas keluar dr kawasan Air Terjun Madakaripura ini, supir yg akan mengantarkan kami ke Bandara Juanda Surabaya baru cerita, kalo konon Air Terjun Madakaripura itu setiap tahunnya selalu meminta tumbal. Sekitar 4 bulan yg lalu ada wisatawan lokal yg meninggal di kawasan air terjun itu dan mayatnya dengan susah payah diambil oleh salah seorang turis mancanegara (bule) karena orang lokal nggak ada yg berani mengambil melihat medan yg cukup berbahaya waktu itu (karena lg musim hujan). Wah, untung saya taunya setelah keluar dr kawasan air terjun. Kalo nggak, akan mikir berkali-kali jg sebelum masuk. Hahaha… Ya intinya memang harus tetap waspada, hati-hati, dan jaga sikap sih kalo di tempat seperti ini. Perihal nasib buruk yg seterusnya mungkin terjadi, serahkan sama Tuhan aja. Hehehe… Nggak akan terjadi tanpa kehendak-Nya, kan?

Begitulah cerita honeymoon saya. Beneran pengalaman baru yg sepertinya nggak akan terlupakan saking berkesannya. Akad, sudah. Resepsi, sudah. Honeymoon, sudah. Saatnya memulai hari-hari sebagai pengantin baru… :3

7 thoughts on “Honeymoon yang tak biasa: Naik Gunung!

  1. Hmmm yg keinget dari semua paparan di atas, adalah kalimat : dingin, naik gunung, naik kuda, .. #ehloh :))

    Ya smoga makin bahagia seperti kala naik gunung berdua ya :D

  2. yaaahh..makanya saya lebih cinta gunung daripada pantai..udaranyaaaa wuenakkkk dan capenya berasa…qeqeqe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *