16 yang ke-1

Hari ini tepat sebulan sudah usia pernikahan kami. Ada beberapa hal yang menarik untuk diceritakan:

.

PINDAHAN

Dengan pindahnya saya ke rumah suami, maka resmilah status sebagai anak kos yang telah saya emban selama 10 tahun terakhir, berakhir sudah. Hahaha… Jangan tanya gimana hebohnya proses pindahan dari kosan ke rumah suami. Beuh… Banyak dramanya, deh. Semua ini dikarena barang saya sudah terlalu banyak. Maklum, barang-barang hasil ngekos 10 tahun. Bohong aja kalo nggak banyak. ;P Yang akhirnya kerepotan justru suami saya. Secara dia yang jago nyortir dan packing barang ke kardus. Saya tinggal nunjuk-nunjuk barang mana aja yang kira-kira masih dipakai dan sudah tidak akan dipakai lagi. Aaaaaaa… baik banget ya suami saya! Hahaha… Dia sampe nggak enak badan berhari-hari loh setelah ngebantuin saya pindahan ini. :|

hasil ngekos 10 tahun… banyaknyaaa…

Dan penderitaan suami saya (eh) nggak cuma sampai di situ. Dia masih saya “siksa” untuk ngebantuin unpacking kardus pindahan dan menatanya di rumah. Ini tentu bukan hal yang mudah. Karena barang-barang saya banyaknya udah saingan sama barang-barang suami di rumahnya. Muahahahaha… Jadilah semua barang berebutan tempat. Bahkan hingga saat ini, belum total 100% barang-barang saya selesai di-unpack dan ditata, loh… :|

.

REJEKI ANAK SOLEH

Lucunya, menikah kenyataannya nggak bikin kami bokek. Di 1 bulan pertama ini masih adaaa aja kado dan “angpao” susulan dari para kerabat untuk kami. Bahkan beberapa di antaranya benar-benar di luar dugaan kami berdua. Yah seperti kebanyakan orang yang baru menikah gitu kali, ya… Yang menarik adalah, seringkali semua yang dihadiahkan ke kami itu adalah barang-barang yang memang sedang kami inginkan atau butuhkan. Kok ya bisa pas banget gitu. Alhamdulillah… Rejeki anak soleh. Hihihi…

kado dari beberapa tetangga ;D

kado dari salah seorang anak kos. eh, yang ngasih ini udah nenek-nenek, loh… ^^ sweet… :’]

.

MASIH BANYAK PR

Setelah menikah memang sudah tinggal di rumah sendiri, sih. Tapi karena kemarin yang tinggal di rumah cuma 1 orang, kan beda kalo udah ada “penghuni baru”. Segala sesuatunya disesuaikan lagi. Maka mulailah rumah sedikit ditambah ini-itu… Sedikit dirombak ini-itu… Lama-lama jadi banyak juga renovasinya. Ahahahaha… Maka berkunjung ke toko bangunan adalah hobi baru kami berdua. Eh tapi seru juga, sih. Apalagi makin ke sini suami saya makin ngalahan. Apapun diseuaikan dengan selera saya. Asiiiiikk… Biar saya makin betah di rumah kali, ya? Hihihi…

Nggak cuma rumah yang disesuaikan untuk ditempati berdua aja yang menjadi PR. Tapi ngundang tetangga untuk syukuran, ngurus dokumen-dokumen terkait KTP baru saya nantinya, perubahan alamat dan perubahan status (secara udah nggak single lagi, ya! ihiy!) untuk apapun itu, belajar menata keuangan rumah tangga (yang sampe sekarang masih bikin saya bingung, metode apa sih yang paling sesuai?), lalu masih buanyaaaakk lagi. Huff… Untungnya sebagian besar sudah mulai dicicil. On progress. Ah, semoga cepet kelar deh PR-PR ini. Saya udah nggak sabar tinggal di rumah ini dengan duduk santai tanpa terbebani PR-PR yang masih harus diselesaikan. Huhuhu…

.

ADAPTASI

Sekarang statusnya udah jadi istri orang. Udah punya suami. Celakanya (atau sebenarnya ini adalah “untungnya”?) saya temenan sama suami saya lebih lama ketimbang jadi pacarnya. Apalagi jadi istrinya. Saya agak kesulitan di masa transisi ini. Awal-awal sikap saya ke dia masih suka “kebablasan”. Becandaannya masih suka becandaan bocah (iya, sikut sana-sikut sini, jambak sana-jambak sini). Tapi semakin ke sini saya semakin sadar, sikap saya harus berubah. Biar gimana pun juga dia adalah kepala rumah tangga yang harus saya hormati. Huff… Susah juga loh ternyata mensugesti diri saya sendiri. Haha…

Dan ternyata menjadi istri yang baik itu memang tidak mudah. Apalagi sebagai istri yang bekerja selayaknya suami bekerja. Saya selalu berusaha menyempatkan diri masak untuk suami, beberes rumah, nyuci-nyuci, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Meskipun saat itu saya sebenarnya sedang kelelahan. Saya kerjakan dengan sisa tenaga yang ada. Untungnya suami saya pengertian. Sangat pengertian bahkan. Dia selalu menyuruh saya istirahat dan tidak memaksakan diri untuk mengurusnya dan mengurus rumah. Bahkan ia tidak sungkan membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah, tanpa pernah saya minta. Huhuhu… Terharu, deh.

.

BLOG BARU

Ehem… Jadi yah, saya akhirnya bikin blog untuk mencatat momen-momen asik bersama suami sepanjang perjalanan pernikahan kami. *azeekk* URL blognya: nillayudhistories.wordpress.com. Ah, nggak mau banyak cerita tentang blog ini. Silahkan diintip-intip dulu kalo penasaran. Hihihi… Postingannya belum banyak, kok. ;P Sebagian besar sudah pernah saya post juga di Path.

.

Segitu dulu aja yang mau diceritain. Oh kalo ada yang nanya, apakah sejauh ini saya bahagia? Saya sangat bahagia! ^^ Saya beruntung punya suami yang bisa diajak kompak, yang selalu berhasil membuat saya merasa “di rumah”, mampu membimbing saya sekaligus menyayangi saya dengan sepenuh hatinya.

Terimakasih, suamiku… :) Terimakasih untuk awal yang indah ini.

6 thoughts on “16 yang ke-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *