Hidup di Jaman Sekarang

Jaman terus berubah. Dinamis. Cara orang hidup di masa lalu bisa jauh berbeda dengan cara orang hidup di masa sekarang. Jujur ya, saya agak bingung kalo denger komentar-komentar semacam ini di mana-mana:

Dulu orang baca do’a dulu sebelum makan. Sekarang makanannya difoto dulu, trus di-upload ke socmed.

Dulu yang ngucapin selamat ulang tahun pasti yang beneran inget tanggal ulang tahun kita. Sekarang thanks to Facebook yang selalu mengingatkan kalo ada temen yang ultah.

Dulu orang nganter undangan nikah sendiri ke rumah orang yang diundangnya. Sekarang enak bener tinggal bikin undangan di Facebook. Nggak gitu ada usahanya. Yang diundang juga jadi males mau datang kalo nggak dikasih undangan cetaknya.

Dulu orang punya buku diari karena nggak mau cerita pribadinya dibaca orang. Sekarang banyak orang yang sengaja bikin blog supaya punya tempat untuk nyeritain hal-hal personalnya dan dibaca orang lain.

Dan ada buanyaaakk sekali “dulu” dan “sekarang” lainnya.

Hmmm… Gini ya. Menurut saya pribadi, apa sih masalahnya dengan cara hidup jaman sekarang yang contohnya seperti yang saya jabarkan di atas itu? Saya termasuk yang kadang suka motoin makanan sebelum dimakan. Hanya jika saya merasa saya akan jarang makan makanan itu atau mungkin nggak akan pernah makan makanan itu lagi. Jadi seperti ingin mengabadikannya saja. Tidak lebih. Dan oh, boleh tanya siapapun yang pernah makan bareng saya. Apakah saya pernah lupa berdo’a dulu sebelum makan? Saya memang KADANG memoto makanan sebelum dimakan. Tapi saya NGGAK PERNAH lupa untuk berdo’a terlebih dahulu sebelum menyantap makanan tersebut. :)

Lalu… Tentang Facebook sebagai pengingat tanggal ulang tahun teman. Memang benar jika orang jaman dulu lebih sering mengingat ketimbang orang jaman sekarang. Nggak cuma hari lahir. Tapi juga nomor telepon, alamat, dan sebagainya. Orang jaman sekarang jadi dianggap “manja”, karena dimudahkan dengan berbagai macam gadget yang mampu dijadikan “memori cadangan” supaya otak nggak terlalu penuh. Ada yang salah dengan itu? Ada. Bagi orang-orang yang terlalu mudah mempermasalahkan sesuatu. Yang merasa tanggal ulang tahunnya harus diingat siapa saja yang mengenalnya. Hehe… Lucu juga, ya? Padahal orang jaman dulu juga berharap bisa hidup di masa sekarang, di mana sudah ada media yang bisa diandalkan sebagai “memori cadangan” sehingga kerja otak jadi tidak terlalu berat.

Nah, tentang undangan nikah di Facebook, pernah loh ada salah seorang kenalan saya sampe nyeletuk gini, “Gue males ah datang ke kondangan dia. Gue cuma diundang di Facebook. Nggak dapat undangan cetaknya.” Wow… Really?? Harus sebegitunya kah? Sadarkah kalian bahwa undangan di Facebook berperan besar terhadap berkurangnya penggunaan kertas dan tentu saja juga berdampak pada berkurannya pemanfaatan pohon? Segala sesuatu yang paperless dan serba digital sebenarnya banyak memiliki dampak baik bagi kelestarian lingkungan. Lagian untuk apa toh menyimpan undangan cetak? Toh biasanya juga cuma dibaca sebentar dan dibuang. :) Sayang banget kan itu kertasnya? Jadi mbok ya nggak usah segitu “sombong” nya sampai nggak mau datang ke acara nikahan temen cuma gara-gara diundang lewat Facebook.

Soal contoh yang ke-empat. Saya termasuk yang menulis diari di masa internet belum semudah sekarang. Buku-buku diari saya bahkan masih tersimpan dengan baik. Apakah diari-diari itu sangat personal bagi saya sehingga saya tidak mengijinkan siapapun membacanya? Iya. Beberapa buku diari saya bahkan bergembok. Tapi sejak ada blog, saya juga ikut menulis blog. Bahkan hingga sekarang. Saya tidak lagi menulis di buku diari. Semua hal pribadi yang ingin saya abadikan, ada di blog. Oh, tapi saya bukan orang gegabah yang akan menceritakan hal-hal yang terlalu personal di blog yang ter-publish. Saya masih punya blog lain yang “tergembok”. Yang hanya bisa diakses dan dibaca dengan menggunakan password. Saking personalnya, tidak ada 1 orang pun yang tau tentang blog saya itu. Bahkan keluarga dan suami saya sendiri. Saya bisa memilah mana yang layak dan tidak layak untuk di-share di depan umum.

Jadi kesimpulannya, saya tidak masalah dengan cara hidup jaman sekarang. Jaman berubah. Perilaku berubah. Ya diikuti sajalah. Selama hal itu baik, tidak menyakiti atau merugikan orang lain atau diri sendiri. Kenapa tidak? Kenapa harus menjadi orang yang resistance to change? Kaku. Tidak bisa menerima perubahan. Kemajuan teknologi memang tidak selalu memiliki dampak baik. Ada dampak buruknya juga. Tapi bukan berarti harus takut dan membentengi diri dengan menolak perubahan dan kemajuan. Apalagi bersikap skeptis terhadap siapa saja yang mengikuti kemajuan jaman. Menyesuaikan dirilah. Cerdas dalam memilih apa saja yang baik dan menghindari yang buruk, efek dari perubahan.

4 thoughts on “Hidup di Jaman Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *