Apa yang saya pilih?

Saya sadar betul. Sebagai Ibu Baru, saya banyak sekali disodori pilihan. Bahkan sejak masih hamil saya sudah dihadapi dengan pilihan apakah saya akan melahirkan dengan spontan (normal) atau sesar. Lalu setelah bayi saya lahir, apakah saya akan memberi full ASI, susu formula atau dicampur. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan susunya menjelang saya kembali bekerja, apakah saya akan memompa ASI dengan pompa manual atau elektrik? Apakah saya akan memberikan popok kain atau popok sekali pakai (pospak) untuk anak saya? Dan selang beberapa bulan kemudian saat anak saya sudah mulai MPASI, metode MPASI apakah yang akan saya terapkan? Lalu bagaimana mengolah makanannya? Dengan direbus sajakah? Diblender? Atau ada pilihan lain?

Saya menulis postingan ini hanya sekedar untuk mengingatkan diri saya sendiri tentang pilihan-pilihan yang pernah saya ambil saat saya masih menjadi Ibu Baru. Pilihan yang didasari oleh berbagai macam pertimbangan dan disesuaikan dengan kondisi saya. Pilihan yang saya ambil tentu saja bisa berbeda dengan yang diambil oleh ibu-ibu lain karena pertimbangan dan kondisinya pun berbeda dengan yang saya alami. Jadi saya menulis postingan ini tanpa bermaksud untuk merasa bahwa apa yang saya pilih adalah yang terbaik untuk semua. Tentu tidak. Pilihan-pilihan ini adalah yang terbaik, untuk saya dan anak saya.

Pilihan: Melahirkan secara spontan (normal) atau sesar?

Pilihan saya: Normal

Pertimbangan:

Yang saya tau, melahirkan secara normal atau sesar itu sama-sama sakit. Yang membedakan adalah melahirkan secara normal akan sangat sakit saat proses melahirkannya tapi tidak punya efek jangka panjang. Sedangkan melahirkan dengan operasi sesar tidak begitu sakit saat prosesnya karena dibius, namun akan ada efek jangka panjang seperti: masih sering merasa sakit atau nyeri di bagian bekas operasi dan ada bekas yang cukup mencolok di bagian perut yang dioperasi sehingga akan berpengaruh pada penampilan.

Namun di minggu ke-36, saya terkena diare hebat sehingga harus diopname. Hal ini ternyata mengakibatkan air ketuban mengeruh sehingga di minggu ke-38 bayi saya harus segera dilahirkan karena jika tidak, bayi saya akan keracunan air ketuban. Selain itu, kepala anak saya tiba-tiba menengadah sehingga akan sangat sulit jika melahirkan secara normal. Saya kecewa awalnya ketika tau saya harus melahirkan dengan operasi sesar. Tapi kembali lagi, pilihan yang terbaik adalah pilihan yang paling sesuai dengan kondisi kita saat itu sehingga saya berusaha tegar dan menerima kenyataan bahwa saya akan melahirkan bayi saya dengan operasi sesar. Yang terpenting adalah bayi saya bisa lahir sehat dan selamat.

Pilihan: Memberi full ASI (hingga 6 bulan), memberi susu formula atau dicampur?

Pilihan saya: Full ASI

Pertimbangan:

Saya tidak punya alasan untuk tidak memberikan full ASI untuk anak saya. Alhamdulillah saya mampu. Sehingga saya berikanlah full ASI untuk anak saya hingga usia 6 bulan. Mampu yang diupayakan, tentu saja karena saya paham betul susahnya menjadi ibu menyusui yang benar-benar menjaga komitmen untuk memberikan ASI eksklusif untuk anaknya. Selain itu alasan utama saya ingin memberi ASI eksklusif adalah karena saya tidak sanggup melihat anak saya sakit sehingga saya sangat ingin ia memiliki kekebalan tubuh yang bagus.

Pilihan: Pompa ASI manual atau elektrik?

Pilihan saya: Pompa ASI manual

Pertimbangan:

Saya merasa lebih nyaman menggunakan pompa ASI manual. Saya punya pompa ASI elektrik, tapi saya tidak nyaman menggunakannya. Tadinya saya pikir karena saya membeli pompa elektrik yang murah. Ternyata tidak juga. Beberapa teman saya juga merasakan hal yang sama saat menggunakan pompa ASI elekrik: agak sakit, ASI yang keluar tidak sebanyak ASI yang diperas dengan pompa manual, dan pompa elektrik juga lebih berisik sehingga saya kurang nyaman menggunakannya di malam hari dan di kantor. Selain itu pompa manual tentu saja tidak bergantung ke colokan atau baterai sehingga bisa memompa di mana pun. Kekurangannya memang sedikit lebih melelahkan memompa ASI dengan pompa manual ketimbang elektrik. Tapi sejauh ini, itu bukan masalah besar buat saya. Yah… cocok-cocokan aja mungkin yaa..?

Pilihan: Popok kain atau popok sekali pakai (pospak)?

Pilihan saya: Popok kain modern (cloth diapers/clodi)

Pertimbangan:

Keunggulan clodi dibanding popok kain biasa dan pospak sudah sangat banyak yang bahas di internet. Bisa dicari sendiri kalau mau tau. ;P Alasan saya kebanyakan ya karena mempertimbangkan hal-hal itu:

–        Clodi lebih aman untuk kulit bayi dibanding menggunakan pospak yang mengandung bahan kimia tertentu sehingga bisa mengakibatkan ruam popok.

–        Clodi lebih ramah lingkungan karena bisa mengurangi sampah pospak. Bayangkan ada berapa pospak yang dihasilkan 1 bayi per hari. Kalikan dengan banyaknya bayi di bumi ini. Wew… Jadi ada berapa banyak ya sampah pospak di bumi ini setiap harinya?

–        Mencuci clodi tidak seheboh mencuci popok kain biasa. Sangat simpel bahkan. Saking simpelnya kita kadang suka lupa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan karena sudah terbiasa heboh dan ribet saat mencuci kain biasa. Hehehe…

–        Karena bisa dicuci-pakai berkali-kali tentunya lebih ramah kantong dong. Pertimbangan saya, ketimbang saya keluar duit banyak hanya untuk sekedar membeli pospak, lebih baik duitnya saya tabung untuk biaya pendidikan anak saya sehingga dia bisa mendapat pendidikan yang berkualitas. Lebih baik keluar duit banyak untuk biaya pendidikan ketimbang keluar duit banyak untuk sekedar membuang kotoran, kan? ;)

Pilihan: Metode MPASI yang buanyaaak itu. Bisa cari sendiri di internet karena penjelasannya bisa panjang. ;P

Pilihan saya: Metode MPASI standar WHO yang mana bayi sudah diberikan makanan apa saja, bahkan diperbolehkan memberi sedikit garam dan gula. Komposisi pentingnya: harus ada karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan zat besi. Jadi bayi tidak hanya diberi jus buah saja. Jadwal makannya: 2-3 kali makan berat plus 1-2 kali cemilan/jus. Diberi ASI + air putih sekitar 500ml per hari.

Pertimbangan:

Metode MPASI standar WHO ini DSA-nya anak saya yang menganjurkan. Kebetulan dokter ini adalah kepala konselor laktasi di rumah sakit tempat anak saya lahir. Alasan saya mengikuti anjuran dokter adalah karena saya merasa cocok dengan penjelasan dokter yang menurut saya sangat masuk akal. Katanya bayi yang sudah mulai makan sudah membutuhkan banyak nutrisi sehingga tidak akan cukup dengan mengkonsumsi jus buah saja. Pemberian garam dan gula juga diperkenankan karena kata dokter, bayi itu kan manusia juga. Sama seperti kita para manusia dewasa ini. Kalau makanan nggak enak atau nggak ada rasanya ya nggak mau makan.

Pemberian makanan beratnya bertahap. Mulai dari 2-3 sendok makan orang dewasa selama 2 minggu pertama dan 1 jenis bahan makanan saja selama seminggu. Setelah itu mulai divariasikan menunya dan porsinya pun bertambah hingga 1 mangkok untuk sekali makan. Jadi sejak usia 6 bulan, anak saya sudah mengkonsumsi berbagai jenis bahan makanan seperti ikan salmon, daging sapi, ikan tuna, ikan dori, ayam, nasi, kentang, jagung, brokoli, wortel, buncis, labu kuning, tahu, tempe, telur ayam kampung, daun bawang, daun seledri, santan, bawang goreng, buah alpukat, pisang, jeruk, pepaya, pir singo dan lain-lain.

Oya, anak saya ternyata sempat alergi ketika mengkonsumsi tahu udang. Nah kata dokter, jika anak ketahuan memiliki alergi, bahan makanan yang menyebabkan alergi itu tetap diberikan selama tidak memiliki dampak serius atau membahayakan nyawa. Hanya saja porsinya dikurangi. Jika diberhentikan pemberiannya, maka si anak anak memiliki alergi itu sepanjang hidupnya. Jadi ketika tau anak saya alergi tofu udang, beberapa hari setelahnya saya tetap memberikan tofu udang ke dalam makanannya dengan kadar yang lebih sedikit dari sebelumnya.

Pilihan: Menu bubur bayi yang ada banyak sekali serta cara pengolahannya.

Pilihan saya: Komposisi makanan seperti yang sudah saya jelaskan di atas: perpaduan karbohidrat, protein hewani, protein nabati dan zat besi. Untuk mengolahnya menjadi bubur, saya menggunakan Slow Cooker.

Pertimbangan:

Saat awal masa MPASI anak saya, saya masih merebus dan mengukus semua bahan makanannya sebelum akhirnya saya saring hingga menjadi bubur. Tapi kemudian saya sadar, merebus bahan makanan (apalagi dalam waktu yang lama) dapat menghilangkan kandungan nutrisi dari bahan makanan tersebut. Percuma donk yah beli bahan makanan mahal-mahal kalau kandungan nutrisnya malah hilang dan tidak terserap tubuh. Yang paling aman memang dengan cara mengukus, sih. Tapi mengukus juga butuh waktu yang tidak sebentar agar bisa membuat bahan makanan empuk sehingga sedikit boros gas kayaknya (karena saya mengukus di atas kompor). Akhirnya setelah baca referensi sana-sini, saya memutuskan untuk menggunakan Slow Cooker.

Keunggulan mengolah makanan dengan Slow Cooker adalah nutrisi makanan yang tetap terjaga meskipun dimasak dalam waktu yang cukup lama. Selain itu meskipun menggunakan listrik, Slow Cooker tidak banyak memakan daya listrik. Saya membeli Slow Cooker Takahi 0,7L yang daya listriknya sangat kecil. Jadi tetap irit listrik. Selain itu memasak bubur dengan Slow Cooker sangatlah gampang. Saya hanya tinggal menyiapkan semua bahan makanan yang akan dimasak dan memasukkannya ke dalam Slow Cooker menjelang tidur di malam hari. Begitu bangun pagi pada keesekokan harinya, bubur sudah jadi. Karena teksturnya sudah lembut, bubur tidak perlu disaring lagi. Cukup dihancurkan sedikit saja. Tidak perlu diblender karena penggunaan blender juga tidak dianjurkan DSA anak saya. Sungguh praktis dan sangat membantu ibu bekerja yang anti repot seperti saya. Hihihi…

Ini bahan makanan untuk bubur anak saya yang saya olah dengan menggunakan Slow Cooker:

–        Karbohidrat –> 3 sendok makan beras yang sudah dicuci bersih/kentang 1 buah ukuran kecil atau sedang/jagung setengah buah yang sudah digerus terlebih dahulu

–        Protein hewani –> Daging ikan salmon/ikan tuna/ikan dori/daging sapi/daging ayam/telur ayam kampung

–        Protein nabati –> Kacang merah/tempe/tahu/kacang hijau

–        Zat besi –> Brokoli/labu kuning/wortel/buncis

–        Sedikit penyedap –> Daun bawang/seledri/bawang goreng

Semua bahan di atas bisa menjadi banyak variasi bubur. Jadi, nggak ada deh tuh cerita saya lihat menu atau resep bubur MPASI yang banyak di-share orang-orang di FB meskipun saya sempat cukup banyak menyimpan resepnya karena setelah saya pertimbangkan, resep-resep tersebut hanya menggunakan sedikit bahan makanan sehingga tidak mengandung banyak nutrisi.

Itu aja yang mau saya sharing di sini. Semoga bisa membantu para ibu baru yang sempat kebingungan ketika dihadapkan pada berbagai macam pilihan yang buanyak itu. Sekali lagi yang perlu saya tekankan, masing-masing ibu bisa aja memilih pilihan yang berbeda dengan yang saya pilih karena  pilihan yang terbaik adalah pilihan yang sesuai dengan masing-masing kondisi dan berdasarkan keyakinan masing-masing. Hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *