Cerita Mudik 2016

Habis Lebaran, rasanya nggak afdol ya kalo nggak bikin cerita mudik? ;P Kebetulan mudik kali ini seru. Nggak cuma pulang ke rumah Papa dan Mama di Riau, tapi juga ke rumah alm Antan dan Nenek di Bukittinggi. Kebetulan ini juga pengalaman pertama anak saya, Aya, yang saat itu masih berusia 10 bulan berpergian dengan pesawat sekaligus menjadi traveling terjauhnya. Kali ini mudiknya lumayan lama. Total menghabiskan waktu 2 minggu karena ayahnya Aya juga harus ke Jawa Timur untuk menghadiri acara keluarga sehingga saya dan Aya tinggal dulu di Riau sampai ayahnya Aya dan yang ngejaga Aya selama saya bekerja di kantor pulang.

 .

Apa aja yang dipersiapkan?

Traveling dengan bayi tentu rada repot. Kalo yang mudik cuma saya dan suami sih simpel. Kita nggak bakal pake koper meskipun judulnya mudik selama 2 minggu. Cukup dengan backpack aja karena kita berdua senang yang praktis. Tapi berhubung perjalanan kali ini membawa bayi, maka rada panjang juga daftar barang printilan bayi yang akan dibawa. Barang-barang seperti baju dan celana sih udah pasti dibawa secukupnya. Selain itu yang nggak boleh ketinggalan adalah:

–        Obat-obatan Aya. Aya memang terbilang jarang sekali sakit, sih. Tapi nggak ada salahnya berjaga-jaga untuk situasi terburuk.

–        Slow cooker dan segala printilan untuk membuat bubur serta peralatan makannya. Secara dari awal Aya memang dikasih bubur homemade, maka segala peralan untuk membuat bubur serta peralatan makannya nggak boleh ketinggalan. Waktu liburan ke Bandung 2 hari aja slow cooker nya tetap saya bawa kok. ;P

–        Cloth diaper (clodi). Kalo hanya berpergian kurang dari 3 hari sih saya cukup hanya membawa pospak (popok sekali pakai) secukupnya dan selebihnya dibeli di tempat tujuan supaya nggak menuh-menuhin tas. Tapi karena kali ini perginya rada lama, saya sih prefer bawa clodi aja. Toh perginya juga ke rumah Mama ini yang dalam artian masih bisa cuci-jemur sendiri. Jadi lebih irit, kan? Ketimbang bawa dan beli pospak untuk 2 minggu? Hehehe…

–        Mainan bayi. Ini penting banget untuk mengusir rasa bosan si bayi dalam perjalanan yang memakan waktu cukup lama. Kalo orang dewasa mah enak ya. Kalo bosan tinggal baca buku atau ngulik hp atau ngobrol-ngobrol. Lah kalo bayi kan nggak bisa seperti itu. Hehehe…

–        Stroller dan gendongan. Saya tetap bawa stroller untuk menduduki Aya setiap dia makan di tempat umum. Jadi dia nggak perlu ribet digendong orang lain saat makan. Letakkan di stroller nya saja sudah cukup.

 .

Bagaimana Aya selama di perjalanan?

Mudik ke Riau dilakukan H-3 sebelum Lebaran dan perjalanan dari Riau ke Bukittinggi dilakukan di hari ke-2 Lebaran. Penerbangan Jakarta – Pekanbaru menghabiskan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Sedangkan perjalanan dengan mobil dari Duri, Riau – Bukittingi normalnya (kalau nggak macet) menghabiskan waktu sekitar 8 jam. Tapi yang terjadi adalah pesawat kudu muter-muter dulu sekitar 45 menit di landasan sebelum akhirnya take off karena antrian penerbangan yang cukup padat dan perjalanan dengan mobil dari Duri ke Bukittinggi saat itu juga macet berat sehingga total perjalanan memakan waktu sekitar 14 jam. Yah namanya masih musim arus mudik. Siap-siap bakal lama di jalan.

Alhamdulillah… Anak saya tidak begitu rewel selama di jalan. Yah rewel karena bosen ada lah sesekali. Namanya juga anak kecil kan. But, most of all dia anteng banget! Bahkan dalam perjalanan pulang dengan pesawat dari Pekanbaru – Jakarta, Aya malah bobok terus dari awal hingga akhir penerbangan. Sempet kebangun sebentar, tapi tertidur lagi. Lega deh ibunya. Hahaha…

 .

Ke mana aja?

Beberapa hari pertama di Duri sih nggak ke mana-mana. Secara masih puasa juga. Baru hari ke-2 Lebaran kita mulai jalan dari Duri ke Pekanbaru. Mengunjungi rumah saudara di sana. Seneng ih lihat Aya ngumpul dengan para om-tante dan sepupu-sepupunya. Untung anaknya juga nggak rewel. Anteng aja gitu dikenalin ke orang-orang meskipun tetep nggak mau digendong selain sama ibunya. Ihiks… Terus dari sana baru deh lanjut jalan ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Sayang mulai jalannya juga udah rada sore. Jadi pas tiba di Kelok 9 yang tersohor itu, sudah malam. Jadi susah juga mau foto-foto. Mana macet banget lagi di sananya. Huhuhu… Tapi nggak apa-apa. Buat saya, ngeliat Aya bisa duduk dan bobok anteng di car seat aja udah cukup menyenangkan. Nggak usah muluk-muluklah kalau jalan sama bayi. Hehehe…

Besoknya kita silaturahmi ke rumah-rumah sodara di Bukittinggi. Selama jalan ke sana ke mari disodori pemandangan yang indaaaaahh banget. Di mana-mana ada hamparan sawah yang hijau dan panorama pegunungan. Udaranya juga masih sejuk. Sempet lihat ada pohon coklat di pekarangan rumah orang lengkap dengan kolam ikan di sebelahnya dan ayam-ayam yang sedang mencari makan di sekitarnya. Namanya orang kota datang ke desa, pastilah takjub. Hahaha…

Yang cukup disayangkan sih kita nggak main ke Jam Gadang. Soalnya di sana itu sekarang cari parkirnya susah. Apalagi di musim liburan. Bisa 3 kali muter-muter dan belum tentu dapat parkiran. Huhuhu… Tapi di hari menjelang kepulangan ke Duri, kita nyempetin piknik ke Lembah Arau! Baru kali ini bisa piknik keluarga komplit. Jadi cukup menyenangkan juga. Karena di sana sekarang ada playground buat anak-anak.

Nah, lucunya perjalanan pulang dari Bukittinggi ke Duri kali ini hanya memakan waktu sekitar 9 jam dengan mobil. Macetnya cuma sebentar. Nggak seheboh waktu berangkat. Aya juga anteng aja tuh. Malah banyakan boboknya. Hahaha… Eh iya. Saat pulang ini alhamdulillah masih sempat loh foto di Kelok 9! Hahaha… Rasanya nggak ke Sumatera Barat kalo belum foto di sini. Hihihi…

 .

After all…

Begitu 2 minggu terlewati, seperti biasa… rasanya masih nggak rela back to reality. Hiks… Nggak sudi besoknya udah ngantor lagi aja. Belum pernah selama ini saya libur dan ngurus Aya sendiri. Menyenangkan juga! Meskipun agak kewalahan karena dia masih nggak mau digendong orang lain. Jadilah setelah libur ini badan saya pegel dan encok di mana-mana. Hahaha… Mana anaknya juga tambah berat. Yang kerasa sekali sih entah kenapa dia terasa semakin gembil. Mungkin karena kalo libur ini dia bisa menyusu langsung jadi puas mimik susunya ketimbang minum susu dengan gelas kayak biasa saya tinggal ngantor. Hehe…

Foto-foto liburan kali ini sebenarnya ada buanyaaaakk… Tapi yah hanya sedikit yang saya publish dan di-share secara terbatas aja. ^^

Intinya sih, saya jadi tau sekarang seperti apa anak saya kalau traveling cukup jauh gitu. Saya juga jadi tau gimana menyiasati dia kalo lagi rewel di jalan. So, belajar dari pengalaman ini, setelah ini kayaknya saya dan ayahnya sudah menyusun beberapa rencana traveling lagi. Hihihi… Aaaaakk… Jadi nggak sabar. *lanjut hunting tiket*

Oops…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *