Gadis Kecil di Stasiun

“Aya udah nggak mainin boneka ini lagi, kan? Boleh bonekanya dikasih ke temennya Aya?”tanya saya kepada anak saya di rumah sambil menyodorkan sebuah boneka gajah kecil di depannya. Anak saya hanya diam saja sambil menatap saya dan bonekanya secara bergantian. Sepertinya dia tidak begitu paham apa yang saya bicarakan. Lalu saya sodorkan boneka itu dan anak saya menciumnya, seperti kebiasaannya yang suka mencium-cium boneka. Saya biarkan dia bermain sebentar dengan boneka itu sebelum nantinya boneka ini akan saya berikan ke anak lain.

Gadis kecil itu… jujur sampai sekarang saya tidak tau namanya. Pertama kali saya menyadari keberadaannya, waktu itu saya baru saja keluar dari stasiun dan hendak menunggu ojek di luar. Gadis kecil itu berlari-lari di sepanjang jalan yang dilewati orang banyak, termasuk saya. Saya perkirakan umurnya tidak jauh dari umur anak saya, sekitar 1,5 tahun. Dia berlari dengan lincah sekali. Saking lincahnya, mungkin sebagian orang yang lewat akan merasa terganggu. Karena sadar anaknya cukup mengganggu, sang ibu yang biasa berjualan tisue dan air mineral di jalan itu langsung menarik rok si gadis kecil hingga ia terseret ke pinggir jalan. Spontan ia menangis. Pastilah sakit “diseret” dengan cara seperti itu. Saya cukup kaget melihat reaksi ibunya saat itu. Kenapa anaknya tidak digendong saja ke pinggir jalan? Kenapa harus “diseret” yang mungkin akan menyebabkan kakinya lecet sehingga ia menangis?

Namun saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihatnya menangis sambil terus berjalan ke tempat tujuan saya. Tapi itulah pertama kalinya saya memperhatikannya. Besok dan besoknya lagi setiap saya melewati jalan itu, saya selalu mencari sosok si gadis kecil tersebut. Sesekali saya sempat melihatnya sedang menangis di dalam gendongan kain jarik ibunya. Entah karena habis dimarahi oleh ibunya atau karena sedang lapar atau apa. Entahlah. Yang jelas, saya cukup sering melihatnya menangis. Hati saya cukup pilu tiap melihatnya. Meskipun di lain kesempatan saya juga sempat beberapa kali melihatnya tertawa dan bermain dengan anak-anak lain yang ibunya juga berjualan tisue di sana.

Akhirnya saya niatkan untuk membawakannya susu kotak, roti dan mainan. Anak sekecil itu memang sudah seharusnya bermain. Memang tidak semua anak beruntung sehingga pasti ada saja yang terpaksa ikut orang tuanya bekerja mencari uang. Setidaknya jika ia memiliki mainan, maka frekuensinya “mengganggu” ibunya bekerja akan semakin kecil dan akan semakin kecil pula kemungkinan ia dimarahi oleh ibunya.

Saat itu ketika pulang bekerja, saya menunggu kereta seperti biasa. Namun tak seperti biasanya, kali ini kereta yang saya tunggu datang terlambat, cukup lama. Saya sampai khawatir kalau saya akan telat sampai rumah dan khawatir tidak sempat bertemu si gadis kecil untuk memberikannya susu, roti, dan boneka. Padahal bonekanya sudah saya bawa di dalam tas kerja saya. Tapi akhirnya kereta datang juga. Seperti yang sudah saya duga, penumpang menjadi sangat ramai namun anehnya, saya mendapat duduk di stasiun berikutnya. Hal yang sangat jarang saya dapatkan jika pulang di jam-jam padat.

Sepanjang perjalanan, saya masih bimbang. Apakah saya akan menemui gadis kecil itu hari ini atau besok saja? Mengingat hari sudah semakin gelap dan entah pukul berapa saya akan tiba di stasiun tujuan. Entahlah. Saya masih ragu untuk memutuskan. Hingga akhirnya saya tiba juga di stasiun tujuan. Saya turun dari kereta dan melihat sebentar ke luar, memastikan apakah gadis kecil itu ada di tempat biasanya. Ternyata ada, dan ada beberapa anak lain juga di sana. Maka saya pergi ke mini market yang ada di dalam stasiun tersebut untuk membeli beberapa susu kotak dan roti. Sengaja saya beli lebih untuk anak-anak lain.

Setelah semua yang saya perlukan sudah saya beli, saya berjalan ke luar stasiun dengan beberapa pikiran. Apa yang akan saya sampaikan ke ibunya? Apa saja yang ingin saya tanyakan perihal anaknya? Jujur, sebenarnya saya ini pemalu (ehem… ada yg percaya nggak, ya?). Saya tidak begitu pintar membuka pembicaraan dengan orang asing. Lagi pula, saya tidak tau apakah ibunya akan bersikap defensif atau tidak. Satu-satunya yang terpikir oleh saya adalah bahwa saya akan membeli tisue yang dijual ibunya. Kebetulan tisue di rumah saya juga sedang habis stoknya.

Lalu semakin dekatlah saya berjalan ke arah si gadis kecil dan ibunya itu. Saat itu, lagi-lagi saya lihat ia sedang menangis. Saya samperin ibunya dan menanyakan harga tisue yang ia jual. “Lima ribu perak, dapat dua bungkus.”jawab ibunya. Lalu saya mengambil uang kertas dari dalam tas. Lalu saya bertanya kepada ibunya, “Anaknya kenapa nangis, bu?”. Dan ibunya pun menjawab, “Ini anaknya mau megang kerupuk di dalam plastik yang plastiknya udah kebuka. Tapi saya karetin dan saya letakkan di bawah sana. Dia nangis mau ngambil kerupuknya terus.”

“Oh begitu.”kata saya, memberikan respon. Lalu saya sodorkan plastik berisi susu kotak, roti, dan boneka kepada si gadis kecil itu. “Ayo, jangan nangis lagi. Ini ada susu buat kamu. Jangan nangis lagi, ya.” Tapi gadis kecil itu tetap menangis di dalam gendongan kain jarik ibunya. Hati saya semakin pilu melihatnya. Ia tampak melirik sebentar ke plastik yang saya bawa, namun tetap saja ia tidak mengambilnya. Akhirnya plastik yang saya sodorkan itu diambil oleh ibunya. “Terimakasih, Tante.”jawab ibunya. “Umurnya berapa bulan, Bu?”tanya saya lagi. “Satu setengah tahun.”jawab ibunya. “Wah, ternyata memang hampir sebaya dengan anak saya. Ya sudah. Terimakasih tisue-nya ya, Bu.”kata saya. Ibunya tersenyum dan mengangguk. Baru kali itulah saya melihat ibunya tersenyum.

Lalu saya samperin ibu lain di sebelahnya yang juga sedang menggendong anak kecil dengan kain jarik. “Bu, ini roti dan susu untuk anak ibu. Tolong dibagi ke anak yang lain juga, ya.” Si ibu itu tampak senang. “Wah, makasih ya mbak. Makasih banyak.”katanya. Saya tersenyum dan mengangguk. Lalu saya pergi dari sana dan saya samperin ojek yang sudah saya pesan lewat aplikasi.

Saya kenakan masker dan helm. Dan ketika motor si abang ojek melaju, saya sudah tidak bisa lagi membendung air mata saya. Entah untuk alasan apa saya malah menangis. Yang jelas dada saya terasa sesak sekali. Saya bahkan belum bertanya nama gadis kecil itu siapa. Air mata saya sudah tidak sabar untuk keluar sehingga saya harus segera pergi dari sana.

Dulu sebelum punya anak, saya tidak tahu bahwa akan seperti inilah rasanya… sensitifnya… kalau kita melihat anak kecil yang seumuran dengan anak kita di jalan. Dan akan ada banyak sekali hal yang akan mengingatkan kita pada sosok mungil itu. Hingga sekarang, tiap saya melewati jalan itu, saya masih terus memperhatikan si gadis kecil tersebut. Sekali waktu pernah saya melihat ia tertidur dalam gendongan kain jarik ibunya dan saya lihat telapak kakinya terluka. Mungkin orang lain yang kebetulan lewat akan melihatnya dengan biasa saja. Tapi saya tidak. Saya tidak bisa pura-pura biasa saja melihat hal semacam itu. Saya sedih. Kalau saya tidak ingat itu anak orang, mungkin akan saya peluk gadis kecil itu dan memberikannya hansaplast.

Saya masih terus berusaha menguatkan hati saya dengan menyadari bahwa ada banyak sekali anak kecil seperti ini di luar sana. Banyak sekali. Bahkan mungkin lebih malang nasibnya. Dan dunia bisa begitu kejam pada tubuh dan hati mereka yang mungil. Lalu apa saya akan selamanya menjaga perasaan sedih tersebut? Tentu tidak. Saya harus kuat. Harus. Karena saya akan melihatnya hampir setiap hari sepanjang hidup saya.

2 thoughts on “Gadis Kecil di Stasiun

  1. Saya membaca postinganmu ini persis saat di stasiun, dan saya berkaca2 aja tiba2 :(

    Dirimu keren nil
    Dan smoga anak kecil itu baik2 saja :((

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *