Menjadi Ibu versi Saya

Hampir setiap pagi saya masak untuk mempersiapkan makan anak sepanjang hari mulai dari sarapan paginya hingga makan malam. Iya, saya jarang sekali memberikan makanan instan kepada anak, bahkan saat traveling. Hal yang sedikit membuat saya kagum pada diri sendiri adalah bahwa saya hampir tidak pernah telat tiba di kantor meskipun tiap paginya saya pontang panting nyiapin makanan serta susu untuk ditinggal buat si kecil. Padahal dulu waktu masih single dan ngekos sendirian, saya lebih sering datang terlambat. Kenyataannya punya anak bisa bikin hidup lebih tertata, ya?

Sebelum berangkat ke kantor, tidak pernah lupa saya cium si kecil yang kadang masih tertidur nyenyak di kasur saat akan saya tinggal. Kalau dia sudah bangun, akan lebih sulit buat saya untuk “kabur” berangkat ke kantor karena dia pasti akan mencari alasan untuk menahan saya, misalnya seperti minta nenen atau minta gendong. Tapi nggak jarang juga dia malah mendadahi saya dan memberikan saya “kiss bye” dengan semangat. Hihihi…

Jangan pernah tanya seberapa rindu saya padanya saat berada di kantor. Terpujilah para pencipta CCTV sehingga ibu-ibu yang gampang kangen anak seperti saya tetap bisa selalu memantau apa yang sedang dilakukan si kecil di rumah. Ini benar-benar jadi obat kangen yang sangat mujarap. Pernah CCTV saya mendadak mati karena lupa dipasang kabel modemnya atau paket data sudah habis. Seharian saya bisa uring-uringan di kantor karena nggak bisa memantau si kecil yang entah sedang apa di rumah dengan mbak pengasuhnya. Melihat anak dari CCTV juga mampu meningkatkan jumlah ASI yang tiap hari saya pompa di kantor. Hahaha..

Saya cukup beruntung karena punya pengasuh anak yang sejauh ini sangat baik, sangat sayang dan kompak dengan anak saya dan tidak banyak maunya seperti yang pernah dikeluhkan beberapa teman tentang pengasuh anak mereka. Padahal saya dapat mbak pengasuh ini dari yayasan dan sudah bekerja sekitar 4 bulan dengan saya. Tapi sejauh ini belum ada masalah berarti. Si mbak sangat kooperatif dan anak saya pun terlihat sangat nyaman dengannya.

Tapi meskipun anak saya sangat dekat dengan mbaknya, tiap lihat saya, si kecil selalu lebih ingin digendong dan main sama saya. Mungkin karena faktor kangen juga. Tiap pulang kerja tetap sayalah yang menyuapinya makan malam. Setelah itu saya akan menemani anak saya bermain di ruang tengah, menemaninya menonton film kartun kesukaannya, hingga menyusuinya sampai tertidur. Tiap malam kalau anak saya terbangun dan menangis, sama sekali tidak pernah saya serahkan si kecil ke mbaknya. Saya dan suami sendiri yang memegang anak saat kami ada di rumah. Biar si mbak istirahat aja karena saya cukup taulah betapa lelahnya seharian menjaga dan mengasuh anak yang sedang lincah-lincahnya seperti anak saya. Lagipula, meskipun sama-sama kerja kantoran, saya dan suami tetap ingin dekat dengan anak kami. Tentu saja, karena kamilah orang tuanya.

Sudah 16 bulan usia anak saya, belum pernah 1 kali pun saya memarahinya. Bagaimana mungkin saya sanggup memarahinya kalau melihatnya menangis saja sudah mampu membuat hati saya tercabik-cabik. Anak saya bukannya nggak pernah “bandel” dan membuat saya kesal. Pernah banget dan bagi saya, di usianya yang sekarang hal itu adalah hal yang sangat wajar. Tapi saat sedang marah, saya hanya cukup melipat kedua tangan di depan dada dan menatap anak saya dengan tatapan serius tanpa perlu berteriak apalagi memaki. Begitu saja anak saya sudah tau kalau saya sedang marah atau kesal.

Setiap bulan di tanggal 19 (di mana ini adalah tanggal lahir anak saya), saya selalu menulis perkembangan anak di Facebook sebagai catatan dan cadangan memori bagi otak saya yang lemah untuk mengingat masa-masa indah dan lucu yang ke depannya mungkin tidak akan terulang lagi itu. Saya sengaja menulisnya di Facebook agar bisa dibaca kerabat yang selalu bertanya kabar dan perkembangan anak saya, khususnya untuk dibaca saudara dan orang tua saya sendiri. Meskipun hal ini suka disalah artikan oleh ibu-ibu lain (khususnya yang nggak bisa berhenti untuk ber-negative thinking) kalau saya sedang membangga-banggakan anak saya, saya cenderung nggak peduli sih. Saya sangat senang membuka catatan-catatan itu kembali, juga membaca komentar yang menarik dari kerabat dekat saya.

Jadi beginilah menjadi ibu versi saya. Tiap ibu memiliki gayanya sendiri. Saya sudah berhenti untuk membandingkan anak dengan anak lain dan membandingkan diri saya sebagai seorang ibu dengan ibu-ibu lain. Anak saya punya jalan dan prosesnya sendiri hingga bisa seperti sekarang dan menjadi dirinya nanti. Saya pun juga sama. Tidak ada yang perlu diirikan dan nikmati saja seluruh proses yang ada… pahit-manisnya belum tentu bisa terulang lagi. Mungkin saya akan punya anak ke-2 dan seterusnya nanti. Dan semoga cara saya sebagai seorang ibu tetap sama, bahkan kalau bisa lebih baik lagi.

Hai, para ibu di luar sana! Selamat Hari Ibu! Jangan lupa berterimakasih pada suami yang juga banyak membantu perjalanan kita sebagai orang tua, ya. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *