Apa Kata Orang vs Kenyataan

520321686

Sebenarnya saya nggak punya kewajiban untuk menjelaskan hal-hal berikut ini kepada siapapun juga. Hidup, hidup saya kok. Selama saya enjoy menjalaninya, saya nggak perlu pusingin komentar orang, kan? Tapi ada kalanya saya merasa lelah karena mendengar komentar yang sama, bahkan dalam waktu yang berdekatan. Jadi, saya tiba-tiba merasa perlu sekali menuangkan unek-unek yang sudah terpendam sejak lama dan saya sangaaaaatt ingin orang lain membaca dan mengetahuinya… bahwa, saya nggak perlu “dikasihani” dengan jalan hidup yang saya pilih. :)

Apa aja komentar-komentar yang bikin gatal kuping itu? Silahkan disimak.

Kerja di Jakarta itu nggak enak. Berangkat gelap, pulang gelap. Berangkat kerja anak masih tidur, pulang kerja anak udah tidur.

Kenyataan:

Dulu waktu masih ngantor di Jakarta, 3 hari dalam seminggu berangkat subuh, tapi sebelum magrib udah di rumah. Masih sempat masak buat Aya, nyuapin Aya makan, main sama Aya, sampai nidurin Aya. Dua harinya lagi bisa berangkat siangan. Masih bisa masak untuk sarapan dan makan siang Aya, main sama Aya dan jalan-jalan pagi keliling kompleks. Pulang pun nggak terlalu malam, jam 8 malam udah di rumah. Masih sempat bacain buku cerita untuk Aya. Sekarang? Berangkat jam 7.15 pagi (ini juga sebenarnya kepagian, sih…), itu Aya udah bangun dan sarapan. Nanti pulang jam 7 malam udah di rumah. Masih sempat nyuapin Aya makan malam dan masak. So, apa yang dipikir orang-orang tentang kerja dan hidup di Jakarta itu nggak selalu sesuai dengan kenyataan. Ya tergantung kerjaannya juga. Apalagi bekerja di bidang IT gini sangat mungkin melakukan pekerjaan remote dari rumah dan apa-apa nggak harus dari kantor atau bekerja lembur.

Jadi ibu bekerja itu bakal susah dekat dengan anak. Anak bakal lebih dekat sama pengasuh atau ART yang jagain di rumah.

Kenyataan:

Saya malah pernah sampai browsing, gimana caranya supaya Aya nggak minta gendong saya terus tiap lihat saya. Gimana caranya anaknya nggak manja banget sama ibunya, tapi bisa berbagi manja ke ayah dan mbaknya juga gitu. Soalnya kalo anaknya disuruh milih antara mau sama ayahnya, ibunya, atau mbaknya, nggak pake mikir lagi anaknya langsung nemplok ibunya. Yang penting mah meskipun bekerja di luar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar, tetap prioritaskan anak. Tetap urus anak sendiri sebisa mungkin. Jangan ragu untuk ambil cuti kalau anak sakit. Jangan apa-apa anak diserahkan ke pengasuhnya. Yah meskipun itu pilihan sih, ya. Tapi kalau tetap mau dekat sama anak meskipun kita sibuk kerja ya cuma itu caranya. :)

Anak di rumah sama pengasuh kok percaya aja, sih? Pengasuh kan nggak bakal sayang sama anak seperti ibunya sayang sama anaknya. Nggak takut anaknya diapa-apain sama pengasuh?

Kenyataan:

Percaya sama pengasuh? Nggak juga. Saya punya 2 buah CCTV di rumah yang cukup untuk memantau sebagian besar rumah. Saya punya tetangga (Alhamdulillah ya… saya sekeluarga sangat dekat dengan para tetangga) yang selalu bisa saya jadikan mata-mata, karena mereka selalu membantu mengawasi anak saya. Dan Alhamdulillah saya dapat pengasuh anak yang nggak macem-macem sejauh ini. Nggak banyak maunya. Saya memang dari awal nggak punya ekspektasi terlalu tinggi tentang pengasuh. Buat saya, yang penting mbaknya nggak kasar sama anak, nggak main pukul, nggak ngasih pengaruh buruk ke anak saya, itu udah cukup. Soal yang lain masih bisa diajari. Kalo salah, masih bisa ditegur baik-baik. Masih mau belajar. Itu aja. Lagian gampang aja sih lihat pengasuh bisa bekerja dengan baik atau nggak. Lihat aja gimana anaknya sama pengasuhnya. Kalau anaknya memang terlihat nyaman dan mbaknya juga kelihatan sayang sama anak (sampe pernah dibelikan boneka segala), ya masa sih saya mau menaruh curiga berlebihan? Waspada boleh. Paranoid jangan. Pengasuh yang baik dan kerjaannya beres itu ada, kok. Saya kenal beberapa, termasuk pengasuh anaknya tetangga-tetangga dan beberapa teman saya.

Kasihan ya istri bantuin suami kerja untuk membantu perekonomian keluarga. Sabar, ya. Nanti kalo gaji suami udah tinggi, kamu nggak perlu capek-capek kerja lagi, kok. (Sumpah, pernah ada yang terang-terangan ngomong gini ke saya)

Kenyataan:

Ini sih beneran bikin saya ngikik dalam hati. Gaji suami itu udah 2 kalinya gaji saya. Tapi saya tetap butuh kerja. Meskipun makin ke sini saya nggak begitu ngoyo kalo kerja itu harus kerja di kantor, sih. Tapi sejauh ini saya masih menikmati kerja kantoran. Ya tantangannya, ya suasananya, ya lingkungannya, ya ilmunya, apalagi gaji dan bonusnya (ehe..), semuanya bikin saya semangat terus bekerja di kantor. Sejauh ini selalu dapat atasan yang baik, teman-teman setim yang kooperatif, kerjaan yang menantang, serta klien yang nggak aneh-aneh. Jadi buat yang pernah berpikir saya bekerja di kantor karena tuntutan ekonomi, ehe… Maaf ya, saya nggak begitu pintar untuk terlihat punya gaya hidup mewah sampe dikira terpaksa kerja untuk membantu perekonomian keluarga segala. :D Bekerja untuk membantu perekonomian keluarga itu mungkin ada benarnya karena saya bekerja memang untuk keluarga. Tapi bukan menjadi alasan utama dan tidak saya jalani dengan terpaksa. I love my job.

Kerja kantoran sih memang dapat gaji. Tapi pengeluaran kan juga makin besar. Ya biaya transportnya, biaya makan siang di kantor yang udah kayak makan di mall, beli peralatan make up supaya tetap tampil kece ke kantor, beli baju kantoran yang bergengsi, belum lagi gaji pengasuh anak yang udah kayak gaji fresh graduate.

Kenyataan:

Semua bisa diatur, Cyiiin… Itulah kenapa pengaturan pengeluaran dan pendapatan penting sekali untuk disesuaikan. Biaya bensin mahal? Ho oh! Makanya saya naik transportasi umum. Beli makan di kantor udah kayak makan di mall? Betul sekali! Makanya saya ngebekal dan masak sendiri. Gaji pengasuh anak tinggi? Sejauh ini masih dapat yang masuk akal dan bisa ditekan dengan mengurangi pengeluaran dari sisi yang lain. Misalnya orang-orang gede pengeluaran untuk beli susu dan popok. Alhamdulillah ya, anak saya masih minum ASI dan popoknya pake clodi yang bisa dicuci pakai. Jadi jelas jauh lebih irit. Dan Alhamdulillah juga pekerjaan saya nggak menuntut saya untuk harus berdandan dan mengenakan outfit yang kece dan fashionable sehingga saya bebas bekerja tanpa pusing mikir hari ini kudu pake lipstick yang mana dan pake baju kantoran mehel yang mana. Inilah salah satu keuntungan (atau kerugian? ;P) bekerja di bidang IT yang orang lain bahkan nggak bakal peduli kamu pakai bedak atau nggak saat bekerja. Ehe.

Yang jelas gimana caranya menjaga supaya nggak lebih besar pasak dari pada tiang. Ini juga alhamdulillah masih bisa berinvestasi dan sedekah rutin tiap bulan. Oh, nggak. Nggak ada rencana mau beli rumah mewah, kok. Rumah mah cukup yang kecil aja. Tapi investasi untuk pendidikan anak itu yang penting sekali.

Berangkat pagi pulang malam gitu apa masih sempat ngurus rumah, anak, dan suami? Kan kewajiban perempuan memang di sana. (huff… sungguh saya lelah diberi pertanyaan semacam ini sepanjang hidup saya)

Kenyataan:

Sempat. Kalo saya nggak sempat, ada ART yang juga saya gaji tiap bulan. Ada suami yang mau bekerjasama dan berbagi beban. Saya nggak mau sok-sok mampu ngurus rumah, anak, dan suami sendirian tapi setelah itu saya stress, tiap bentar ngeluh di sosmed, jadi galak dan marah-marah terus sama anak. Saya nggak mau. Saya perlu menjaga kewarasan saya. Kalau saya happy, maka anak juga akan happy, suami happy, yang kerja sama saya juga happy. Jadi penting sekali menjaga mood dan suasana hati itu. Ingat, mood jelek dan bagus itu menular, saudara-saudara! Saya percaya di luar sana ada banyak ibu-ibu tangguh yang mampu mengurus semuanya sendirian. Sayangnya, itu bukan saya. :) Tuhan toh menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Begitulah. Meskipun kalo baca penjelasan di atas sepertinya saya sangat menikmati hidup sekali ya, tapi kadang saya juga masih suka mengeluh kok. BT kalo mendadak hujan dan saya jadi susaaaahh banget dapat ojek dan jadi pulang telat ke rumah, sebel kalo kereta gangguan dan bikin kereta yang saya naikin super duper padet sampe bikin badan saya remuk, sakit kepala tiap lihat kerjaan masih banyak sementara deadline udah dekat, terlalu capek untuk masak dan buntut-buntutnya terpaksa beli makanan di luar juga. Iya, saya mengalami semua itu. Tapi Alhamdulillah ya, yang kayak gini ini nggak sering-sering saya rasakan. Jadi saya sangat bersyukur sekali atas hidup yang Tuhan berikan untuk saya.

Masih nggak percaya bahwa saya benar-benar mensyukuri hidup yang di mata sebagian orang perlu “dikasihani” ini? Coba hitung ada berapa kata “Alhamdulillah” yang saya tulis di atas. :)

5 thoughts on “Apa Kata Orang vs Kenyataan

    • Memang ga ngerti. Tapi malas jg kalo belum apa-apa udah diberi tatapan “Duh, kasian bener sih lu…” padahal yg ngejalanin aja ga merasa begitu.

  1. Rangorang ini yaa.. kok reseh banget sih? Hidup memang susah, tapi bukan berarti kalian yang mesti perbaiki dengan idealisme kalian kan…
    Semangat ya. Your life, your struggle, your way. ;)

    • Tengkyu :)
      Iya, standar hidup orang itu beda-beda kan. Ya goal-nya, ya prosesnya, Tiap orang jg punya kemampuan dan keterbatasan masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *