Happy August!

Tak terasa, tahun 2017 sudah sampai di bulan Agustus aja. Seperti yang pernah saya sebutkan di postingan tahun sebelumnya, bulan Agustus merupakan bulan yang penuh makna dalam hidup saya karena di bulan ini, saya merayakan ulang tahun saya, ulang tahun pernikahan saya, dan ulang tahun anak saya. Beberapa tanggal penting terkait hidup saya ada di bulan Agustus ini.

Dimulai dari saat saya berulang tahun kemarin, tiba-tiba suami terbangun menjelang subuh, lalu ia membangunkan saya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Saya sempat agak linglung karena masih ngantuk berat dan sempat berpikir bahwa seharusnya baru besoknya saya berulang tahun. Tapi ternyata saya salah. Hari itu memang hari ulang tahun saya. Suami mengajak saya duduk di sampingnya dan memeluk saya, mengucapkan do’a-do’a yang baik untuk saya, dan diakhiri dengan, “Kalau kamu mau ke salon atau massage untuk memanjakan diri, pergilah.” Dan itu saya anggap sebagai hadiah ulang tahun saya karena saya memang tidak meminta apa-apa darinya. Tentu saja saya senang, meskipun sampai saat ini saya belum juga pergi memanjakan diri karena ingin melakukannya setelah gajian aja. ;P

Lalu beberapa hari setelahnya, tibalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-3. Lucunya, hari itu diawali dengan mesin air di rumah yang mendadak mati dan “memaksa” kami untuk tidak bisa berangkat ke kantor masing-masing karena disibukkan dengan urusan domestik. Hahaha… Mungkin Tuhan ingin kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saat itu. *berusaha berpikir positif* Tapi alhamdulillah, semua tertangani dengan baik dan bahkan saya sempat membawa anak saya ke posyandu untuk menjadapatkan vitamin A gratis dari pemerintah. Hehe…

Tiga tahun berubahtangga, terlalu banyak yang sudah terjadi di rumah kami. Dari kejadian paling menyenangkan, mengharukan, menegangkan, hingga mengecewakan. Tapi apapun itu, seperti apapun kondisinya alhamdulillah hingga saat ini kami masih mampu bertahan (dan semoga selalu bisa bertahan bersama-sama). Putri kecil kami mungkin juga merupakan salah satu sumber kekuatan kami dalam menghadapi segala masalah. Seburuk apapun kondisinya, kami selalu ingat bahwa kami punya misi yang sama selama ini, khususnya dalam hidup dan membesarkan anak. Iya, semoga kami tidak akan pernah lupa.

Kata orang, badai pertama dalam pernikahan terjadi di masa-masa awal hingga 3 tahun pernikahan. Saya lupa siapa yang persisnya pernah mengatakan ini kepada saya. Tapi jika itu benar, maka kami sudah berhasil melewati badai pertama dalam rumah kecil kami. Jujur sih, semakin ke sini (apalagi dalam beberapa bulan terakhir) kami sudah semakin jarang bertengkar. Mungkin karena kami sudah tahu bagaimana menghadapi masalah dan kondisi kritis yang kadang terjadi. Meskipun cek cok kecil masih saja ada, tapi selama kami tidak saling melukai dan menyakiti (apalagi mengkhianati), semuanya akan kembali baik-baik saja. Atau jangan-jangan karena kami sudah tidak lagi begitu fokus pada hubungan kami karena perhatian kami lebih banyak tercurah pada anak?

Anak kami, yang beberapa hari kemudian juga berulang tahun yang ke-2 memang saat ini adalah segalanya bagi kami. Segala sesuatu tentangnya telah menjadi dunia kami. Seru juga sesekali membahas tabungan untuk sekolahnya hingga survey santai mengenai sekolah anak incaran kami. Orangtua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya sehingga segala sesuatunya harus dipikirkan dan direncakan dengan matang. Anak ini cepat sekali terasa besarnya sehingga, hingga hari itu tiba (melepas anak untuk bersekolah), kami tidak akan kelabakan mencari sekolah yang terbaik dan sesuai dengan budget yang kami miliki.

Oh iya. Semakin besar anaknya ternyata semakin banyak ya pelajarannya. Anak saya sekarang tumbuh menjadi anak yang sudah tidak mau lagi menyahut jika dipanggil orang tuanya, sering mengandalkan tangisan untuk mencapai keinginannya, semakin susah makan (hufff…), dan lebih suka memainkan mainan anak tetangga ketimbang mainannya sendiri (padahal kalau dibeliin mainan yang sama juga dia nggak tertarik. lebih suka sama mainan orang lain. wew…). Saya juga nggak tahu kenapa dan masih berpikir keras agar anak saya tidak seperti itu lagi.

Tapi meskipun sikap dan sifatnya semakin menguras kesabaran, dia tetaplah anak kecil. Baru 2 tahun dan tentu saja tidak mudah mengajari anak sekecil itu tentang sopan santun dan tata krama. Tiap hari, saya dan suami masih terus rajin menasehati anak meskipun saya yakin, nggak semuanya juga yang benar-benar dia pahami dan ikuti. Setidaknya, harapan saya, dengan seringnya saya mengulang perkataan yang sama, anak akan semakin mudah ingat dan mengimplementasikannya. Hmmm… Ngomong-ngomong saya sekarang jadi semakin paham perasaan orangtua saya dulu waktu saya masih kecil. Hahahaha…

Di hari ulang tahun anak saya, kami membeli kue ulang tahun yang cukup besar. Sama seperti tahun lalu, kami membagi-bagikan kue itu kepada seluruh tetangga. Menyenangkan  juga menghampiri tetangga satu per satu bersama suami dan anak sambil membawa kue. Oiya, saya dan suami sama sekali belum membelikan hadiah ulang tahun untuk anak kami. Entahlah. Kami masih mempertimbangkan, apakah itu perlu? Tentu kami ingin anak kami bahagia di hari ulang tahunnya. Tapi, di sisi lain kami tidak ingin anak merasa bahwa ia sudah pasti akan selalu mendapat hadiah di hari ulang tahunnya. Kami ingin menanamkan stigma bahwa ia bisa mendapatkan hadiah kapanpun, bukan hanya saat berulang tahun. Dan sebaliknya, tidak selalu ia akan mendapatkan hadiah di hari ulang tahunnya. Apakah itu salah?

Begitulah.

Sebentar lagi bulan Agustus akan berakhir dan beralih ke bulan September. Perayaan-perayaan sekali dalam setahun ini akan benar-benar berakhir sudah. Tidak ada harapan yang terlalu muluk yang sempat saya ucapkan. Hanya semoga kebahagiaan selalu ada di rumah kecil kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *