Ketika Saya Menyukai Hujan

Malam itu saya hendak berpergian ke sebuah tempat. Biasanya saya akan berkendara dengan ojek online supaya lebih praktis dan bisa langsung turun persis di tempat tujuan. Tapi hujan yang cukup deras membuat saya memilih opsi lain: berkendara dengan angkot. Kebiasaan yang sudah sangat lama saya tinggalkan sejak mudah dan murahnya transportasi online.

Ketika sebuah angkot lewat di depan saya, sejujurnya saya sempat mengeluh. Hal ini bukan tanpa alasan. Melihat sebuah angkot lewat di depan saya aja udah bikin saya kesal. Begitu banyak memori buruk tentang angkot sepanjang hidup saya. Dari hampir kecopetan, berantem dengan supir angkot yang melawan arus, sampai pengalaman buruk berhadapan dengan supir angkot yang dengan sombongnya membuang uang saya hanya karena saya memberikannya uang receh.

Jadi, saya benar-benar menghindari angkot sebisa saya. Kalau nggak butuh-butuh banget, saya nggak akan lagi naik angkot (oh btw, saya selalu penasaran dengan nasib supir angkot angkuh yang membuang recehan saya itu. Apakah recehan masih tidak bernilai baginya di era transportasi online ini? Hahaha… *tertawa jahat*) Namun kali itu, saya tidak punya pilihan lain. Untuk naik taxi, rasanya juga tidak mungkin karena lokasi tujuan dengan tempat saya berada saat itu sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi juga tidak bisa dibilang dekat. Mustahil rasanya ada taxi atau taxi online yang mau memenuhi permintaan saya. Ditambah lagi, saya lagi irit. Ya sudahlah, naik angkot saja sudah yang terbaik rasanya saat itu.

Begitu sebuah angkot hampir melintas di depan saya, saya ulurkan tangan sambil “menikmati” sedikit sentuhan air hujan yang turun tanpa ampun. Sesaat kemudian angkot tersebut berhenti di depan saya. Hampir saja saya buka pintu paling depan karena menurut saya posisi tersebut yang paling memungkinkan saya untuk dapat cepat-cepat turun dari angkot begitu tiba di tempat tujuan. Tapi anehnya saat itu pintunya tidak bisa dibuka padahal sudah saya coba berulang kali. Sementara saya tidak bisa memberi kode kepada supir untuk membuka kunci pintu dari dalam karena kaca pintunya sudah tertutup embun sehingga si supir tidak bisa melihat saya dengan jelas. Ya, suasananya memang sangat dingin saat itu. Hujannya deras sekali.

Ya sudah, dari pada badan saya semakin basah kuyup, maka saya masuk ke pintu belakang saja. Berusaha mencari celah di antara penumpang yang surprisingly, saat itu ternyata sedang ramai. Tak seperti biasanya karena akhir-akhir ini penumpang angkot sepi adalah hal yang semakin umum terjadi. Akhirnya saya mendapat posisi yang tidak jauh dari pintu. Hal ini sangat saya syukuri karena ini akan memudahkan saya saat keluar dari angkot nantinya.

Sesaat kemudian, angkot pun mulai jalan. Diam-diam saya menikmati suasana hujan di luar angkot. Ya, menikmati hujan bagi saya memang lebih mudah saat kepala dan badan terasa kering. Saya masih tidak bisa menikmati hujan ketika badan saya basah kuyup. Sejenak pandangan saya beralih ke depan, ke arah tempat duduk di samping supir. Saya masih penasaran kenapa pintu depan itu tidak bisa dibuka. Lalu setelah saya perhatikan baik-baik, ternyata ada kepala mungil terbaring di atas paha sang supir. Ya, ada anak kecil yang tidur di sana. Kepalanya direbahkan persis di atas paha sang supir yang kemungkinan adalah… saudaranya? Ayahnya? Ah, entahlah. Saya juga tidak tau.

Namun saya penasaran, apakah anak kecil itu baik-baik saja? Dia tampak terbaring kaku di sana. Entah karena sedang asik tidur, atau karena sakit. Sungguh, saya tidak ingin berasumsi yang tidak-tidak. Tapi, di dinginnya cuaca saat itu, ia kelihatan hanya berselimutkan sebuah kain batik tipis. Apakah nyenyak tidurnya jika ia kedinginan? Atau karena sudah terbiasa, ia tidak ada masalah dengan rasa dingin tersebut?

Mendadak saya merenung. Mungkin karena inilah Tuhan mengirimkan hujan deras. Agar si supir angkot ramai penumpangnya. Agar si supir angkot punya uang lebih, untuk membelikan anak itu selimut yang lebih tebal. Atau (mungkin dan semoga saja dugaan saya salah) agar si supir angkot punya cukup uang untuk membelikan obat untuk anak kecil tersebut.

Hujan. Deras. Mungkin karena itu saya mendadak sentimentil. Segera saya ambil uang lebih dari dalam dompet. Lalu saya minta supir angkot berhenti tak jauh dari tempat tujuan saya.

Semoga memang rejekimu ya, Nak.

6 thoughts on “Ketika Saya Menyukai Hujan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *