Kepada Perempuan di Masa Lampau

Hai, Kamu!

Ya, kamu. Yang muda dan bergejolak. Yang hampir selalu mengkhawatirkan masa depan. Pasti tidak pernah 1 detik pun kamu menduga bahwa sesungguhnya masa depanmu akan baik-baik saja. Setidaknya tidak akan seburuk yang pernah kamu kira. Setidaknya hingga beberapa tahun ke depan.

Mungkin saat itu kamu sedang duduk sendirian di sudut kamar dengan mata sembab habis menangis. Apapun rasanya bisa membuatmu menangis di kala itu. Tentang pacar yang rasanya selalu menyakiti hati, tentang skripsi yang menguras otak dan selalu saja harus revisi, tentang sebagian teman yang bahkan sudah menenteng ijazah dan sibuk melirik lowongan pekerjaan. Dalam hati kamu bertanya-tanya, “Giliranku kapan?”.

Baru saja kamu berhasil menenteng ijazah dan mencoba mencari pekerjaan, kamu sudah melihat  sebagian temanmu menikah. Dalam hati kamu berpikir, “Enak sekali mereka. Lulus tepat waktu, cepat diterima kerja, lalu segera dilamar pacar dan menikah pula. Sementara aku masih di sini dan nggak tau ke depannya akan seperti apa.” Hari demi hari kamu lewati dengan galau… Ya, galau khas anak muda.

Akhirnya kabar baik itu datang. Untungnya tidak perlu waktu lama bagimu untuk menemukan pekerjaan yang layak. Ini tentu suatu kebanggaan. Namun, kembali kamu melirik hidup orang lain… yang sudah menikah… punya anak… sudah punya jabatan yang keren-keren di kantornya dengan gaji yang tentu nggak kalah keren. Sementara kamu baru saja memulai, dengan gaji seadanya yang tentu tetap kamu syukuri. Galau kembali datang. Kekhawatiran itu masih terus menghantui… “Akan seperti apa aku nanti?”

Hal tersebut memang hal yang wajar di usiamu. Ada banyak titik yang seolah-olah menjadi “wajib” untuk dicapai di umur segitu. Sementara kamu merasa hidupmu tidak “semulus” orang lain yang sepertinya segalanya lancar-lancar saja. Kamu bahkan masih harus berjuang untuk menata hati dan memberanikan diri dalam mengambil keputusan yang tepat agar salah 1 sumber galaumu berkurang. Dan ketika keputusan itu benar-benar kamu ambil, memang sumber kegalauan itu akhirnya berkurang. Namun jadi ada yang kosong. Lalu lagi dan lagi kamu mengkhawatirkan masa depan yang masih tidak terbayang.

Hai, Kamu!

Kamu tau kenapa tulisan ini aku buat? Karena aku ingin kamu tahu, bahwa kita perlu sekali memberikan selamat kepada diri sendiri. Setelah semua usaha dan perjuangan serta pengambilan keputusan yang tidak mudah itu, akhirnya kamu mampu melewati semuanya. Pelan-pelan… satu per satu kekhawatiranmu berkurang. Meskipun kadang kekhawatiran itu berganti dengan kekhawatiran yang lain. Hidup memang begitu dinamis, bukan?

Selamat ya! Seperti yang aku bilang, masa depanmu akan baik-baik saja. Setidaknya tidak akan seburuk yang pernah kamu kira. Setidaknya hingga beberapa tahun ke depan.

=================

Tulisan ini terinspirasi dari suatu obrolan di mobil ketika sedang jalan-jalan bersama keluarga dan beberapa teman lama. Lalu salah seorang teman terdiam di tengah obrolan dan bertanya dengan serius, “La… Dulu lo pernah nyangka nggak sih hidup lo akan seperti sekarang?”

Setelah semua kegalauan dan kekacauan di masa muda itu? Tentu saja tidak. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *